Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

Pemilik Birmingham Diduga Terseret Kasus Penjualan Stadion

Jumat 10 Jan 2020 10:21 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Endro Yuwanto

Stadion St Andrews

Stadion St Andrews

Foto: wikipedia.org
Fan Birmingham, Blues Trust, menyesalkan keputusan yang diambil oleh petinggi klub.

REPUBLIKA.CO.ID, BIRMINGHAM -- Pemilik klub Birmingham City asal Hongkong Paul Suen Cho-hung tengah dalam investigasi English Football League (EFL). Ia diduga terseret dalam kasus penjualan Stadion St Andrews.

"Klub mengkonfirmasi bahwa pihaknya telah dituduh melanggar peraturan EFL sehubungan dengan rencana bisnis yang dikenakan pada kami pada musim 2018/2019," tulis pernyataan dari klub Birmingham pada Kamis (9/1). “Klub menyangkal tuduhan itu dan kami menunggu hasil dari proses disipliner yang sedang berlangsung. Kami tidak akan membuat komentar lebih lanjut saat ini."

Laporan keuangan Birmingham City sempat diterbitkan pada 6 Januari. Tercantum bahwa klub telah menjual tanah Stadion St Andrews kepada anak perusahaan dari grup yang terdaftar di Kepulauan Cayman atas nama Birmingham Sports Holding Limited yang dimiliki oleh Paul Suen Cho-hung, seharga 29,9 juta dollar AS.

Klub akan menyewakan kembali stadion yang telah dikenal sebagai Stadion St Andrew sejak Juni 2018, seharga 1,6 juta per tahun selama 25 tahun ke depan.

Jika dinyatakan bersalah, Birmingham bisa mendapat sanksi poin. Klub itu pernah disanksi sembilan poin musim lalu karena mengalami kerugian sebesar 64 juta dollar AS selama tiga tahun. Birmingham finis di urutan ke-17 dari 24 tim, unggul 12 poin dari zona degradasi.

Dalam dua musim sebelumnya, Birmingham hanya lolos dari degradasi pada detik-detik terakhir. Musim ini Birmingham duduk di urutan ke-18 klasemen dan telah kalah lima dari tujuh pertandingan terakhir.

Kelompok pendukung Birmingham, Blues Trust merilis pernyataan menanggapi berita tersebut. Blues Trust terkejut atas kabar itu. "Karena dituntun untuk percaya bahwa pada 2018/2019 kami beroperasi pada rencana bisnis yang diberlakukan EFL yang seharusnya melindungi kami dari sanksi tambahan, kami sekarang menemukan bahwa kebenarannya adalah kami tampaknya telah melanggar rencana itu."

Blues Trust menyesalkan keputusan yang diambil oleh petinggi klub. "Para pendukung telah disesatkan, dan sekali lagi diperlakukan dengan penghinaan oleh klub. Klub telah mengalihkan kepemilikan tanah ke anak perusahaan lain."

The Blues Trust berjanji meminta dewan petinggi klub untuk mengklarifikasi tentang apa yang dituduhkan oleh EFL. Sebelumnya, Paul Suen Cho-hung melalui Suen Trillion Trophy Asia mengambil alih klub pada Oktober 2016. Birmingham sebelumnya dimiliki oleh pengusaha Hong Kong Carson Yeung Ka-sing yang mengambil alih pada 2007. EFL belum menentukan tanggal untuk sidang atas kasus ini.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA