Monday, 30 Sya'ban 1442 / 12 April 2021

Monday, 30 Sya'ban 1442 / 12 April 2021

INDEF: Daya Beli Harus Dijaga di Tengah Konflik AS dan Iran

Selasa 07 Jan 2020 23:53 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Pedagang batik melayani pembeli di los batik Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Pemerintah diminta menjaga daya beli di tengah ketidakpastian global

Pedagang batik melayani pembeli di los batik Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Pemerintah diminta menjaga daya beli di tengah ketidakpastian global

Foto: Republika/ Wihdan
Pemerintah diminta menjaga daya beli di tengah ketidakpastian global

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai bahwa daya beli masyarakat harus tetap dijaga dalam rangka menopang perekonomian nasional di tengah konflik Amerika Serikat dan Iran.

"Dalam rangka menjaga pertumbuhan ekonomi nasional maka bauran kebijakan diharapkan dikaji kembali. Pemerintah harus fokus tetap menjaga daya beli masyarakat tetap baik karena ketidakpastian global bertambah setelah perang dagang AS-China," ujar peneliti Indef Rusli Abdullah ketika dihubungi di Jakarta, Selasa (7/1).

Ia memprediksi pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan pemerintah sebesar 5,3 persen diperkirakan cukup berat di tengah sentimen global yang kurang mendukung."Konflik AS-Iran dan perang dagang AS-China membuat pertumbuhan ekonomi 5 persen diperkirakan cukup berat. Indef memprediksi bisa menuju 4,8 persen jika konflik-konflik itu terus berlanjut," ucapnya.

Rusli mengatakan dalam rangka menopang perekonomian tetap tumbuh dan terjaga, pemerintah harus dapat lebih mempermudah investasi yang masuk ke dalam negeri.

"Selain menjaga daya beli masyarakat, pemerintah diharapkan memberi kemudahan investasi masuk," katanya. Rusli juga mengatakan bahwa di tengah ketidakpastian global itu, masyarakat atau investor di pasar keuangan diimbau untuk lebih berhati-hati dalam menentukan pilihannya.

"Investasi logam mulia atau emas dinilai paling baik saat ini untuk menjaga nilai aset," katanya.

Selain itu, lanjut dia, surat berharga negara (SBN) juga masih cukup menjanjikan, baik dari sisi keamanan maupun dalam memberikan imbal hasil."Hal itu dikarenakan ada garansi dari pemerintah," katanya.

Sementara investasi di pasar modal, ia menyarankan agar investor memilih saham-saham perusahaan di sektor konsumer, seperti makanan dan minuman"Di tengah gejolak, permintaan tetap akan kuat," ucapnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA