Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Dirjen Migas: BBM Turun karena Formula Harga yang Baru

Senin 06 Jan 2020 14:38 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya

SPBU Pertamina Non-Subsidi

SPBU Pertamina Non-Subsidi

Foto: Antara
Harga BBM nonsubsidi yang dijual di SPBU Pertamina turun per 5 Januari 2020.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aksi korporasi penyedia layanan Jenis Bahan Bakar Minyak Umum (JBU) dalam menyesuaikan harga sejak awal Januari 2020 merupakan salah satu dampak implementasi Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 187 K/10/MEM/2019 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan.

Terhitung tanggal 5 Januari 2020, PT Pertamina (Persero) menurunkan harga BBM Jenis RON 92 atau Pertamax menjadi Rp 9.200 per liter dari harga sebelumnya Rp 9.850 per liter. Sebelumnya SPBU Shell per tanggal 1 Januari 2020 juga menurunkan harga BBM RON 92 yaitu Shell Super menjadi Rp 9.300 per liter dari sebelumnya Rp 10.250 per liter.

Sedangkan SPBU Total Indonesia menurunkan BBM Performance 92 dari harga Rp 10.200 per liter menjadi Rp 9.250 per liter pada 3 Januari 2020. "Salah satu faktor utama penurunan harga bisa dipengaruhi dari beleid tersebut yang mulai diimplementasikan 1 Januari pada semua badan usaha yang menyalurkan BBM jenis umum ini," kata Dirjen Migas, Djoko Siswanto di Kementerian ESDM, Senin (6/1).

Djoko mengungkapkan, dengan berlakunya Keputusan Menteri ESDM Nomor 187K/10/MEM/2019 per 1 Januari 2020, konstanta batas atas formula harga jual BBM Jenis Umum jenis RON dibawah 95 dan Minyak Solar CN 48 yang semula Rp 2.542 per liter kini menjadi hanya Rp 1.000 per liter.

Dengan konstanta baru ini, wajar bila kemudian harga jual BBM JBU di pasaran turun karena formula harga jual BBM merupakan penjumlahan dari MOPS, konstanta, margin Badan Usaha maksimal 10 persen, PPN 10 persen dan PBBKB.

Begitupun halnya dengan formula RON 95, RON 98 dan Minyak Solar CN 51 yang mengalami penurunan konstanta batas atas yang semula Rp 3.178 per liter menjadi Rp 1.200 per liternya.

"Meskipun harga minyak di pasaran naik, konstantanya turun lebih dari 60 persen untuk BBM jenis umum ini, jadi ini yang mengoreksi harga hingga kita bisa menikmati harga yang lebih murah saat ini," ujar Djoko

Selain BBM RON 92, beberapa jenis BBM lainnya yang mengalami penurunan antara lain BBM RON 95 yaitu Shell V-Power dijual menjadi Rp 9.950 per liter dari harga sebelumnya Rp 11.600 per dan Total Performance 95 turun dari Rp 11.550 per liter turun menjadi Rp 9.900 per liter.

Untuk RON 90, harga jual BBM di Shell turun menjadi Rp 9.200 per liter dari harga sebelumnya Rp 9.900 per liter. Sedangkan di SPBU Total Indonesia juga disesuaikan menjadi Rp 9.150 per liter dari harga Rp9.900 per liter untuk RON yang sama. Sedangkan di SPBU Pertamina yaitu Pertalite harganya tetap sebesar Rp 7.650 per liter.

Khusus SPBU Pertamina, selain RON 92 ada beberapa jenis Gasoline dan Diesel yang juga mengalami penurunan harga, diantaranya Pertamax Turbo (RON 98) menjadi Rp 9.900 per liter dari sebelumnya Rp11.200 per liter, Dexlite CET 48 turun dari Rp 10.200 per liter ke Rp 9.500 per liter dan Pertamina Dex CET 51 menjadi Rp 10.200 per liter dari Rp 11.700 per liter.

Untuk Biosolar non subsidi jenis CET 48 ditetapkan pada harga yang sama, yaitu Rp 9.300 per liter. Harga-harga BBM di berbagai SPBU tersebut utamaya berlaku di Jabodetabek, dan dapat berbeda di wilayah lainnya.

Melalui penyesuaian harga tersebut, Pemerintah berharap mampu menjangkau daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global. "Saya harap ini menjadi stimulus mendorong daya beli masyarakat Indonesia," ujar Djoko.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA