Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Front Perlawanan Negara Muslim akan Balas Kematian Soleimani

Jumat 03 Jan 2020 17:14 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Christiyaningsih

Jenderal Iran, Qasem Soleimani. Jubir Garda Revolusi Iran sebut front negara Muslim akan balas kematian Soleimani. Ilustrasi.

Jenderal Iran, Qasem Soleimani. Jubir Garda Revolusi Iran sebut front negara Muslim akan balas kematian Soleimani. Ilustrasi.

Foto: BBC
Jubir Garda Revolusi Iran sebut front negara Muslim akan balas kematian Soleimani

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Garda Revolusi Iran mengutuk serangan udara Amerika Serikat (AS) ke Bandara Internasional Baghdad, Irak pada Jumat (3/1). Komandan Pasukan Quds Mayor Jenderal Qasem Soleimani tewas dalam peristiwa tersebut.

Pasukan Quds merupakan sayap eksternal dari Garda Revolusi Iran. "Garda Revolusi, bangsa Iran yang bijak dan front perlawanan di seluruh wilayah geografis negara Muslim akan membalas darah martir ini (Soleimani). Kegembiraan Zionis (Israel) dan Amerika akan segera berubah menjadi duka," kata juru bicara Garda Revolusi Iran Ramezan Sharif.

Iran sering menyebut negara-negara regional dan pasukan yang menentang Israel dan AS sebagai "front perlawanan". Tak hanya Iran, serangan AS yang menewaskan Soleimani turut dikutuk oleh Suriah dan Irak.

Suriah, melalui kantor berita negaranya Syrian Arab News Agency (SANA), menyebut agresi AS ke Bandara Internasional Baghdad adalah tindakan kriminal yang berbahaya. Perdana Menteri Irak Adel Abdul-Mahdi menyebut aksi militer AS di negaranya merupakan sebuah pelanggaran kedaulatan.

Menurut Abdul-Mahdi, tindakan tersebut dapat memicu peperangan, tak hanya di Irak, tapi juga di kawasan dan dunia. Pentagon telah mengonfirmasi bahwa mereka bertanggung jawab atas serangan ke Bandara Internasional Baghdad.

Pasukan Quds dibidik karena dinilai bertanggung jawab atas tewasnya kematian ratusan pasukan AS. Tewasnya Soleimani kian memperburuk hubungan Washington dan Teheran. Sebelumnya kedua negara telah bersitegang atas gelombang demonstrasi di Irak, terutama pascagedung Kedutaan Besar AS di Baghdad menjadi target serangan massa.

Presiden AS Donald Trump menuding Iran merupakan dalang di balik aksi penyerangan gedung kedutaannya. Hal itu segera ditampik dan dikecam Komandan Garda Revolusi Iran Brigadir Jenderal Hossein Salami. Dia mengisyaratkan Iran siap membuka konfrontasi militer dengan Washington.

"Kami tidak memimpin negara ini menuju perang. Tapi kami tidak takut perang apa pun dan kami memberi tahu Amerika untuk berbicara dengan benar dengan bangsa Iran. Kami memiliki kekuatan untuk menghancurkan mereka beberapa kali dan tidak khawatir," ujar Salami pada Kamis (2/1).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA