Sunday, 23 Rajab 1442 / 07 March 2021

Sunday, 23 Rajab 1442 / 07 March 2021

Telur dan Bawang Picu Inflasi di Lampung

Kamis 02 Jan 2020 18:50 WIB

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Dwi Murdaningsih

Telur ayam.

Telur ayam.

Foto: kementan
Inflasi Kota Bandar Lampung menempati peringkat ke-29 dari 82 kota yang diamati.

REPUBLIKA.CO.ID,  BANDAR LAMPUNG – Inflasi Kota Bandar Lampung pada Desember 2019 sebesar 0,47 persen. Dari enam kelompok pengeluaran, bahan makanan mengalami inflasi tertinggi 1,29 persen. Sedangkan pemicu inflasi terbesar yakni telur ayam ras dan bawang merah.

“Bulan Desember 2019, kelompok bahan makanan memberikan andil inflasi sebesar 0,31 persen. Komoditi dominan pemicu terjadinya inflasi, telur ayam ras bawang merah, cabai merah, tomat sayur, jeruk, dan daging ayam ras,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung Yeane Irmaningrum di Bandar Lampung, Kamis (2/1).

Selain kelompok bahan makanan, kelompok pengeluaran yang membentuk inflasi yakni makanan jadi, minuman, rokok, dan tembaka 0,01 persen, perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,04 persen, kelompok sandang 0,03 persen, transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,05 persen. Sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga tidak memberikan andil dalam pembentukan inflasi maupun deflasi.

Komoditi dominan yang memberikan andil dalam pembentukan inflasi pada Desember 2019 yakni telur ayam ras, bawang merah masing-masing 0,11 persen, cabai merah 0,08 persen, tomat sayur 0,05 persen, gula pasir, angkutan antarkota masing-masing  0,04 persen, jeruk 0,3 persen, pasta gigi 0,02 persen, daging ayam ras, emas perhiasan masing-masing 0,02 persen.

Ia mengatakan terjadi peningkatan indeks dari 152,72 pada November 2019 menjadi 154,69 pada Desember 2019. Terjadinya inflasi disebabkan naiknya harga kelompok bumbu-bumbuan sebesar 5,16 persen, telur, susu, dah hasil-hasilnya 4,67 persen, ikan diawetkan dan lemak, minyak masing-masing 0,83 persen, daging dan hasilnya 0,67 persen, buah-buhan 0,44 persen, kacang-kacangan 0,07 persen.

Sedangkan kelompok ikan segar mengalami deflasi sebesar 0,40 persen dan sayur-sayuran 0,17 persen. Sementara kelompok padi-padian, umbi-umbian dan  hasilnya, bahan makanan lainnya tidka mengalami perubahan indeks.

Pada Desember 2019, inflasi Kota Bandar Lampung menempati peringkat ke-29 dari 82 kota yang diamati perkembangan harganya. Dari 82 kota, 72 kota mengalami inflasi dan 10 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Batam sebesar 1,28 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Watampone sebesar 0,01 persen. Deflasi tertinggi terjadi di Manado sebesar 1,88 persen, dan deflasi terendah terjadi di Bukit Tinggi dan Singkawan masing-masing sebesar 0,01 persen.

Kota Bandar Lampung pada Desember 2019, berdasarkan penghitungan inflasi tahun kalender (point to point) mengalami inflasi sebesar 3,53 persen, dan inflasi year on year sebesar 3,53 persen.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA