Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Trump: Saya tak Ingin Perang dengan Iran

Rabu 01 Jan 2020 22:00 WIB

Rep: Fergi Nadira B/ Red: Nashih Nashrullah

Presiden AS Donald Trump menegaskan ingin berdamai dengan siapapun termasuk Iran.

Presiden AS Donald Trump menegaskan ingin berdamai dengan siapapun termasuk Iran.

Foto: AP Photo/Evan Vucci
Donald Trump menegaskan ingin berdamai dengan Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengatakan, bahwa dirinya tak ingin ataupun memprediksi  perang dengan Iran. Sebelumnya, dia memang mengancam akan membalas Iran menyusul aksi demonstrasi keras yang diduga dipimpin oleh milisi Iran di Kedutaan Besar AS di Baghdad.  

"Apakah saya mau (red-berperang)? Tidak, saya ingin damai. Saya suka kedamaian. Dan Iran seharusnya juga menginginkan kedaiaman lebih dari siapapun. Jadi saya tak melihat itu terjadi," ujar Trump kepada wartawan di Mar-a-Lago, Florida dikutip kantor berita Reuters, Rabu (1/1).  

Baca Juga

Sebelumnya, Trump mengatakan bahwa Iran akan bertanggungjawab atas nyawa yang hilang dalam serangan terhadap setiap fasilitas AS di manapun berada. 

"Iran akan bertanggung jawab penuh atas nyawa yang hilang, atau kerusakan yang terjadi, di salah satu fasilitas kami. Mereka akan membayar harga yang sangat besar! Ini bukan peringatan, ini adalah Ancaman," cicit Trump di Twitter.  

Cicitan Trump terposting di Twitter resinya setelah beberapa jam pengunjuk rasa di Irak marah atas serangan udara AS di Irak yang menargetkan Kataib Hizbullah. Para pendemo melemparkan batu dan membakar pos keamanan di Kedutaan Besar AS di Baghdad. 

"Kedutaan Besar AS di Irak, dalam beberapa jam ini aman! Banyak pejuang, bersama dengan peralatan militer paling mematikan di dunia, segera dilarikan ke lokasi," kata Trump. 

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, mengatakan, serangan terhadap kedutaan besar (Kedubes) AS di Irak diorganisasi para teroris. "Serangan kedubes AS dirancang  teroris Abu Mahdi al-Muhandis dan Qays al-Khazali, mereka bersekongkol dengan perwakilan Iran Hadi al-Amari dan Faleh al-Fayyadh," cicit Pompeo melalui Twitter resminya dikutip Alarabiya, Rabu (1/1). 

Atas respons kerusuhan demo di Kedubes AS di Baghdad pun, Washington memutuskan untuk mengerahkan pasukan tambahan ke Timur Tengah, khususnya ke Irak. Menteri Pertahanan AS, Mark Esper, mengonfirmasi bahwa sekitar 750 personel militer akan dikerahkan ke Baghdad dalam beberapa hari ke depan.  

"Pengerahan pasukan tambahan merupakan langkah tepat untuk merespons ancaman terhadap personel dan fasilitas AS, seperti yang kita semua saksikan di Baghdad saat ini," kata Esper.   

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA