Tuesday, 24 Zulhijjah 1442 / 03 August 2021

Tuesday, 24 Zulhijjah 1442 / 03 August 2021

Muslimat NU dan Aisyiyah Edukasi Dampak Susu Kental Manis

Senin 30 Dec 2019 21:55 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Muslimat NU dan Aisyiyah edukasi kader tentang dampak susu kental manis.

Muslimat NU dan Aisyiyah edukasi kader tentang dampak susu kental manis.

Foto: Pixabay
Muslimat NU dan Aisyiyah edukasi cara bijak konsumsi susu kental manis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— YAICI bersama PP Muslimat NU dan PP Asiyiyah sepanjang 2019, mengedukasi sebanyak 2.600 anggota organisasi mengenai asupan gizi anak serta cara bijak mengonsumsi susu kental manis. 

Edukasi berlangsung di 13 kota dari delapan provinsi, yaitu, Bandung, Banten, Lombok, Bekasi, Makassar, Lebak, Serpong, Cirebon, Bekasi, Batam, Padang, Bali, dan Jambi.   

Baca Juga

Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) menyatakan edukasi mengenai pangan sehat mendesak dilakukan untuk mencegah penyakit tidak menular.

Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU, dr Erna Yulia, mengatakan edukasi mengenai pangan sehat mendesak untuk dilakukan untuk mencegah penyakit tidak menular.

"Edukasi mengenai pangan sehat ini, mendesak untuk dilakukan karena pola makan yang sehat adalah salah satu faktor pencegahan penyakit tidak menular," ujar Erna dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (30/12).

Oleh karena itu, pihaknya bersama dengan Yayasan Abhipraya Cendika Indonesia (YAICI) dan PP Asiyiyah melakukan edukasi mengenai pangan sehat pada masyarakat. PP MuslimantNU menggerakkan kader-kadernya untuk mengedukasi warga tentang pola makan yang sehat dan bergizi.

Erna memberi contoh, susu kental manis (SKM) yang selama ini dianggap sebagai pengganti susu padahal sebenarnya hanyalah pelengkap makanan.

"Pemahaman bahwa SKM sebagai pengganti susu ini terus kami galakkan pada masyarakat," kata dia.

Erna menjelaskan ormas memiliki kader di setiap daerah yang dapat dilatih untuk menyampaikan sosialisasi dan edukasi kepada warga. 

Untuk itu, dia mengimbau pemerintah untuk melibatkan organisasi massa untuk menyampaikan program edukasi untuk menjangkau lebih banyak masyarakat yang bisa teredukasi.

"Dengan kemitraan antara pemerintah, organisasi, LSM dan masyarakat, maka kita berharap dapat menekan tingginya angka kematian akibat penyakit tidak menular," jelas dia lagi.

Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah,Chairunnisa, mengatakan pihaknya melalui program Gerakan ‘Aisyiyah sehat (GRASS)menggerakkan kader-kadernya hingga ke tingkat desa, untuk memberikan penyuluhan tentang pola hidup sehat, edukasi gizi dan pola makan yang sehat.

Chairunnisa menegaskan edukasi harus dilakukan secara terpadu, melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, organisasi masyarakat, pendidik, para penyuluh kesehatan, hingga masyarakat itu sendiri, khususnya ibu-ibu yang mengatur pola makanan di rumah.

"Oleh karena itu kami sangat mendukung program edukasi pangan sehat bekerjasama dengan YAICI ini,” kata dia.

Menurut dia, edukasi kesehatan sangat penting untuk melibatkan ormas. Kader- kader Aisyiyah menjangkau sampai ke tingkat paling bawah, yakni sampai ke desa-desa.

“Dengan jangkauan kader Aisyiyah tersebut, edukasi tentang pola hdup sehat dan pola makanan yang sehat bisa disampaikan hingga masyarakat desa," kata Chairunnisa.

Ketua Harian Yayasan Abhipraya Cendika Indonesia (YAICI), Arif Hidayat, mengatakan pola hidup tidak sehat seperti mengonsumsi rokok dan alkohol serta kurang berolahraga disinyalir sebagai salah satu faktor pemicu penyakit tidak menular tersebut.

Selain itu pola makan dan asupan tidak sehat juga menjadi salah satu faktor penentu, yakni makanan yang terlalu banyak lemak, garam dan gula, serta perilaku diet yang tidak sehat.

"Konsumsi terlalu banyak gula juga menjadi salah satu faktor pemicu penyakit diabetes. Apalagi bila gula tersebut dikonsumsi anak-anak sejak masih balita. Ini sangat berbahaya karena berpotensi menjadikan anak tersebut menderita diabetes ketika ia berada pada usia produktif," kata Arif Hidayat.

Salah satu kondisi dimana anak-anak mengonsumsi gula secara berlebihan, kata Arif, adalah anak yang meminum SKM secara berlebihan sejak masih berusia di bawah lima tahun.

 

 

 

 

 

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA