Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Gerhana Matahari Cincin di Surabaya Hanya Terlihat 73 Persen

Kamis 26 Dec 2019 13:44 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Friska Yolanda

Warga Surabaya yang menyaksikan gerhana matahari cincin di halaman Masjid Nasional Al-Akbar, Jalan Masjid Agung, Pagesangan, Jambangan, Surabaya, Kamis (24/12).

Warga Surabaya yang menyaksikan gerhana matahari cincin di halaman Masjid Nasional Al-Akbar, Jalan Masjid Agung, Pagesangan, Jambangan, Surabaya, Kamis (24/12).

Foto: Republika/Dadang Kurnia
Gerhana matahari cincin terlihat sempurna di wilayah di garis khatulistiwa.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Wakil Ketua Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Timur Samsyul Maarif mengungkapkan, fenomena gerhana matahari cincin (GMC) di Surabaya hanya terlihat 73,8 persen. Karena, kata dia, tidak semua wilayah di Indonesia bisa melihat fenomina langka ini secara utuh atau maksimal.

"Di sini (Surabaya) bisa dilihat 73,8 persen magnutidonya. Kondisi di Surabaya pasti berbeda dengan wilayah lain seperti Jakarta," kata Syamsul ditemui di Masjid Nasional Al-Akbar, Surabaya, Kamis (26/12).

Baca Juga

Lebih lanjut Samsyul Marif menjelaskan, untuk wilayah Indonesia, Gerhana Matahari Cincin hanya bisa terlihat di sebagian besar wilayah yang berada di jalur khatulistiwa, seperti lima daerah di Riau. Kelima daerah tersebut, yakni Pasir Pengaraian, Kabupaten Rokan Hulu, Dumai, Pulau Padang Kabupaten Bengkalis dan Selat Panjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, dan Kabupaten Siak.

"Lingkaran cincin dilihat dari Surabaya hanya 73,8 persen, kebanyakan yang full bisa lihat ada di garis khatulistiwa seperti Kabupaten Siak, Riau," ujar Syamsul.

photo
Warga Surabaya yang menyaksikan gerhana matahari cincin di halaman Masjid Nasional Al-Akbar, Jalan Masjid Agung, Pagesangan, Jambangan, Surabaya, Kamis (24/12).
Meski demikian, lanjut Syamsul, kondisi cuaca juga akan memengaruhi pandangan. Jika tertutup awan atau mendung, fenomena itu tidak akan terlihat, sekalipun  menggunkan alat bantu seperti teleskop.

"Cuaca juga pengaruhi pandangan. Kalau sudah tertutup awan tidak akan bisa meliat fenomena tersebut," kata Syamsul.

Syamsul mengimbau, bagi masyarakat yang ingin menyaksikan gerhana matahari cincin, agar tidak menyaksikannya dengan mata telanjang, karena bisa merusak mata. Untuk itu, dia menyarankan menggunakan teropong maupun alat bantu.

"Kalau ingin melihat GMC harus menggunakan alat bantu seperti teropong maupun kacamata khusus. Tidak disarankan dengan mata telanjang karena akan merusak mata," kata Syamsul.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA