Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

Polisi Selidiki Penyebab Kecelakaan Bus Sriwijaya

Kamis 26 Dec 2019 06:00 WIB

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih

Petugas gabungan dari SAR Pagaralam, TNI, Polri, BPBD dan Tagana melakukan evakuasi korban kecelakaan Bus Sriwijaya dengan rute Bengkulu - Palembang yang masuk jurang di Liku Lematang, Prahu Dipo, Dempo Selatan, Pagaralam, Sumatera Selatan, Selasa (24/12/2019).  Kepolisian masih menyelidiki penyebab kecelakaan maut Bus Sriwijaya di Pagaralam.

Petugas gabungan dari SAR Pagaralam, TNI, Polri, BPBD dan Tagana melakukan evakuasi korban kecelakaan Bus Sriwijaya dengan rute Bengkulu - Palembang yang masuk jurang di Liku Lematang, Prahu Dipo, Dempo Selatan, Pagaralam, Sumatera Selatan, Selasa (24/12/2019). Kepolisian masih menyelidiki penyebab kecelakaan maut Bus Sriwijaya di Pagaralam.

Foto: Antara/Dok Basarnas Palembang
Kepolisian masih menyelidiki penyebab kecelakaan maut Bus Sriwijaya di Pagaralam

REPUBLIKA.CO.ID, PALEMBANG -- Kepolisian masih menyelidiki penyebab kecelakaan maut Bus Sriwijaya di Pagaralam yang terjadi pada Senin (23/12). Kepala Korlantas Polri Irjen Pol Istiono seusai memantau lokasi kejadian pada Rabu (25/12), mengatakan bahwa polisi akan menyelidiki penyebab kecelakaan hingga dua hari ke depan.

Sementara ini kecelakaan sudah merenggut nyawa 35 jiwa dan 13 orang korban selamat. "Sudah dilakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Nanti akan dianalisis secara lengkap dan saat ini masih pengumpulan data," kata Istiono.

Baca Juga

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, SIM pengemudi yang turut menjadi korban bus itu sudah tidak berlaku sejak 2010. Namun, untuk izin PO bus, menurut dia, sudah cukup lama beroperasi, termasuk busnya sudah dipakai lebih dari 20 tahun. "Kami masih menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut," jelasnya.

Berdasarkan hasil pengamatan langsung, Istiono menerangkan karakteristik jalan tergolong berbahaya karena menanjak cukup tajam. Menurut dia, pengemudi harus berkonsentrasi dan kendaraannya juga harus prima.

"Trek ini menurut saya terlalu tajam, perlu adanya papan pengumuman. Selain itu, perlu adanya penerangan jalan dan rambu warning agar kejadian ini tidak terulang lagi,” ujar Istiono. Bus Sriwijaya diduga tidak dapat menaiki tanjakan tajam sehingga mundur menabrak beton pembatas kemudian terjun ke jurang sedalam delapan meter.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA