Saturday, 2 Jumadil Awwal 1444 / 26 November 2022

Sekoper Cinta Pemprov Jabar Jadi Pilot Project Nasional

Senin 23 Dec 2019 14:55 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Dwi Murdaningsih

Sejumlah peserta upacara bendera mengenakan pakaian adat Lampung dalam rangka peringatan Hari Ibu ke-91 di Bandar Lampung, Lampung, Senin (23/12/2019).

Sejumlah peserta upacara bendera mengenakan pakaian adat Lampung dalam rangka peringatan Hari Ibu ke-91 di Bandar Lampung, Lampung, Senin (23/12/2019).

Foto: Antara/Ardiansyah
Program Sekoper Cinta memberdayakan perempuan di Jabar.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Program Sekoper Cinta (Sekolah Perempuan Capai Impian dan Cita-cita) yang digagas Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat akan menjadi pilot project program nasional. Menurut Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, program ini diterapkan di seluruh Indonesia oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) RI.

"Sekoper Cinta saya laporkan kemarin ke Menko PMK akan dijadikan program nasional. Keberhasilan Sekoper Cinta, secara lisan Pak Menko PMK, akan menjadikan program yang diterapkan di seluruh Indonesia," ujar Ridwan Kamil disapa Emil usai menjadi inspektur upacara peringatan Hari Ibu ke-91 Tahun 2019 Tingkat Provinsi Jabar di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Senin (23/12).

Baca Juga

Emil mengatakan, tokoh perempuan Dewi Sartika, mampu membuat kurikulum lengkap soal peningkatan peran perempuan dan kesetaraan gender. Hal ini, menjadi inspirasi pihaknya meluncurkan program Sekoper Cinta. Program ini, sudah mewisuda sekira 2.700 perempuan Jabar.

"Kita sudah siap kurikulumnya kan lengkap, ya, dari urusan ekonomi, pendidikan, anak, ketahanan keluarga, hingga mendeteksi radikalisme," kata dia.

Emil optimistis, Sekoper Cinta kalau diterapkan pada seluruh perempuan se-Indonesia maka masalah negara bisa diselesaikan dengan penguatan. Emil juga menyatakan, Dewi Sartika merupakan pahlawan yang menjadi simbol kebangkitan perempuan Jabar.

"Kebangkitan perempuan Jawa Barat bisa dilihat dari sosok pahlawan Dewi Sartika. Untuk menjadi pintar kan tidak harus sekolah formal, ukurannya kan itu," katanya.

Peringatan Hari Ibu ke-91, menurut Emil, menjadi momentum untuk terus meningkatkan kesehatan ibu. Dengan begitu, generasi masa depan Jabar bebas dari stunting. Selain itu, Emil mengaku bangga bahwa saat ini kesetaraan gender makin mengemuka.

“Dua pencapaian ini (Rektor Universitas Padjadjaran dan Institut Teknologi Bandung dipimpin oleh perempuan) melengkapi semangat kesetaraan gender yang luar biasa dari kaum perempuan dan ibu,” kata Emil.

Saat upacara berlangsung, Emil membacakan pidato Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI I Gusti Ayu Bintang Darmavati. Dalam pidatonya, Bintang menyatakan bahwa Hari Ibu merupakan momentum kebangkitan bangsa atas perjuangan perempuan. Hari Ibu dideklarasikan dalam kongres Perempuan Indonesia di Yogyakarta pada 22 Desember 1928.

Menurut Bintang, perempuan Indonesia masa kini dituntut untuk aktif meraih akses dan kesempatan sama dengan laki-laki di berbagai bidang pembangunan. Hal itu akan memberikan keyakinan besar bahwa perempuan mampu meningkatkan kualitas hidup serta mengembangkan potensi dan kemampuan sebagai motor penggerak sekaligus agen perubahan.

Bintang mengatakan, peringatan hari ibu ke-91 merupakan titik awal gerakan percepatan pemberdayaan perempuan di berbagai bidang pembangunan dan memberikan perlindungan bagi perempuan. Hal ini, untuk mewujudkan arahan Presiden sehingga tema yang diangkat kali ini adalah Perempuan Berdaya Indonesia Maju.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA