Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Ikappi: Waspadai Harga Daging Sapi dan Ayam Jelang Nataru

Senin 23 Dec 2019 13:33 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya

Pedagang daging menanti pembeli di los daging sapi Pasar Senen, Jakarta (foto ilustrasi).

Pedagang daging menanti pembeli di los daging sapi Pasar Senen, Jakarta (foto ilustrasi).

Foto: Republika/Prayogi
Saat ini merupakan puncak kenaikan harga komoditas pangan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) menyatakan terdapat fluktuasi harga yang signifikan terhadap dua komoditas, daging ayam dan sapi dalam sepekan terakhir. Fluktuasi itu mengarah pada kenaikan harga yang  lebih diakibatkan tingginya permintaan masyarakat di pasar tradisional.

Ketua Umum Ikappi, Abdullah Mansuri mengatakan, berdasarkan laporan harian Ikappi pada Senin (23/12), daging sapi murni dihargai Rp 117.500 per kilogram (kg) sedangkan daging sapi paha belakang hingga Rp 123.000 per kg. Sementara, harga daging ayam di tingkat pedagang sudah melonjak hingga Rp 36.000 per kg.

"Dilihat dari ritme lima tahun terakhir, yang harus lebih diwaspadai adalah daging sapi karena permintaan tinggi tapi barang tidak banyak. Untuk ayam, walaupun harga naik relatif lebih dapat dikendalikan," kata Mansuri kepada Republika.co.id, Senin (23/12).

Mansuri mengatakan, saat ini merupakan puncak kenaikan harga komoditas pangan. Namun, pemerintah harus lebih memperkuat kontrol harga komoditas hingga pasca libur Natal dan Tahun Baru. Pasalnya, berdasarkan tren kenaikan harga yang terjadi saat momen Natal dan Tahun Baru akan sulit turun hingga awal tahun.

"Ini waktu-waktu yang berisiko karena setiap saat harga bisa langsung naik. Harus ada antisipasi dan kecukupan stok di hulu," ujarnya.

Secara umum, Ikappi menilai fluktuasi harga bahan pangan pokok di pasar tradsional selama tahun 2019 cenderung sama seperti tahun lalu. Komoditas yang paling sulit dikendalikan yakni cabai rawit, bawang merah, daging ayam dan telur ayam ras, serta daging sapi.

Mansuri pun menilai, di tahun 2020 upaya pemerintah untuk melakukan stabilisasi harga pangan mesti dilakukan dengan mengoptimalisasi kemampuan produksi dalam negeri. Perlu rencana yang matang untuk mempersiapkan stabilisasi harga pangan setahun ke depan. 

Meskipun, inflasi bahan pangan saat ini cenderung rendah, ia menilai tidak menutup kemungkinan bisa terjadi ledakan harga. Bulan ini, Mansuri meyakini bahwa inflasi akan melonjak tinggi sebagai puncak dari kenaikan harga bahan pangan seiring akan berlangsungnya masa liburan panjang.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi pada bulan November lalu mencapai 0,14 persen atau naik dari bulan Oktober yang hanya 0,02 persen. Inflasi itu terutama dipicu oleh bawang merah 0,07 persen, tomat sayur 0,05 persen, daging ayam ras 0,03 persen, kemudian telur ayam ras, bayam, jeruk, dan tomat masing-masing 0,01 persen.

BPS memperkirakan, inflasi pada Desember akan jauh lebih tinggi."Bulan Desember akan selalu lebih tinggi dari November, tapi mudah-mudahan juga bisa lebih terkendali," kata Kepala BPS, Suhariyanto. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA