Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

BPOM Evaluasi Obat Diabetes Metformin Tercemar NDMA

Kamis 19 Dec 2019 20:47 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Indira Rezkisari

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K. Lukito mengatakan sedang mengevaluasi obat diabetes metformin setelah penarikan obat itu di Singapura.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K. Lukito mengatakan sedang mengevaluasi obat diabetes metformin setelah penarikan obat itu di Singapura.

Foto: Antara/Muhammad Adimaja
BPOM harus mengkaji dulu sebelum menarik obat diabetes metformin tercemar NDMA.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengaku saat ini tengah mengevaluasi obat-obatan untuk penyakit diabetes mellitus mengandung metformin yang tercemar N-nitrosodimethylamine (NDMA). Singapura telah memastikan menarik peredaran obat ini. Obat diabetes metformin mengandung NDMA namun masih boleh beredar di Indonesia.

"Sedang ada evaluasi obat diabetes metformin dan ada pertemuan-pertemuan karena belum tentu produk yang beredar di sini adalah produk yang sama. Apalagi kebutuhan obat-obatannya masih tersedia," ujar Kepala BPOM Penny K Lukito di konferensi pers pemaparan kinerja BPOM di 2019 dan outlook 2020, di Jakarta, Kamis (19/12).

Ia menambahkan, pengamatan masih terus dilakukan sebelum mengambil keputusan. Ia mengaku BPOM juga mengumpulkan data-data pendukung lebih lengkap mengenai hal ini.

"Karena untuk mengambil kebijakan ini harus membutuhkan bukti. Jadi produk obat ini masih bisa dikonsumsi, apalagi ada jaminan dari dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI)," ujarnya.

Sebelumnya Pemerintah Singapura menarik tiga obat diabetes mengandung metformin yang tercemar N-nitrosodimethylamine (NDMA). Paparan NDMA dalam jumlah tertentu bisa mengakibatkan mutasi sel hingga terjadi kanker.

Dikutip dari laman Straits Times, Health Sciences Authority (HSA) sebelumnya menguji 46 obat diabetes yang beredar di pasaran Singapura. Dengan tiga jenis yang ditarik, maka 43 obat lainnya masih bisa digunakan pasien diabetes di negara tersebut.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA