Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Cabai Bisa Cegah Serangan Jantung dan Strok?

Kamis 19 Dec 2019 17:09 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nora Azizah

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology, cabai ternyata memiliki dampak untuk mencegah serangan jaunting dan stroke (Ilustrasi)

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology, cabai ternyata memiliki dampak untuk mencegah serangan jaunting dan stroke (Ilustrasi)

Foto: ANTARA FOTO/Arnas Padda
Ada kaitan antara mengonsumsi cabai dengan sakit jantung dan strok.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology, cabai ternyata memiliki dampak untuk mencegah serangan jaunting dan stroke. Dalam studi yang melibatkan 22.811 perempuan dan laki-laki di Italia, mereka yang secara teratur makan cabai, sebanyak lebih dari empat kali dalam sepekan, 44 persen lebih sedikit mengalami kemungkinan terkena penyakit jantung, dibanding yang tidak mengkonsumsi cabai.

Selain itu, orang lebih sering mengkonsumsi cabai, memiliki kemungkinan 61 persen lebih sedikit meninggal karena penyakit serebrovaskular seperti stroke. Namun, temuan ini tidak berarti bahwa cabai adalah cara untuk mencegah penyakit jantung dan stroke.

Dilansir Forbes, Kamis (19/12), pertama-tama penelitian ini bersifat observasional yang berarti para peneliti hanya mengamati apa yang terjadi pada sekelompok orang dari waktu ke waktu, tanpa intervensi apapun. Para peneliti memberikan masing-masing peserta sebuah kuesioner yang menanyakan tentang kebiasaan makan makanan mereka dan mengikuti apa yang terjadi pada kesehatan masing-masing peserta, dengan periode tindak lanjut rata-rata 8,2 tahun setelah terdaftar dalam penelitian ini.

Setelah masa studi berakhir, para peneliti kemudian mencoba untuk menentukan apakah mereka yang memiliki karakteristik tertentu seperti makan lebih banyak cabai lebih atau kurang cenderung menderita hasil kesehatan yang buruk, seperti kematian.

Dalam penelitian observasional semacam itu, Anda tidak dapat benar-benar mengetahui apakah cabai sebenarnya merupakan sesuatu yang berperan, atau hanya sekadar untuk perjalanan sebagai pengamat lain. Kemudian, dalam analisis studi selama masa penelitian, hanya sejumlah kecil orang, yaitu sekitar 1.236 peserta yang meninggal.

Jumlah tersebut kurang dari 6 persen keseluruhan peserta dan kurang dari 2 persen yang meninggal karena penyakit jantung iskemik atau penyakit serebrovaskular. Ini mengartikan pemakan cabai hanya mengalami pengurangan yang cukup kecil, sekitar 1,5 persen dalam resiko kematian aktual.

Meski demikian, cabai dapat memberi manfaat kesehatan karena memiliki banyak vitamin dan mineral yang terkandung di dalamnya, seperti vitamin A, vitamin C, vitamin B6, vitamin K1, kalium, dan tembaga. Cabai juga memiliki sejumlah antioksidan dan capsaicin yang sangat panas.

Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal Appetite menemukan bukti bahwa capsaicin berpotensi mengurangi apa yang juga terjadi pada nafsu makan. Kemudian, ada meta-analisis yang berbeda yang diterbitkan dalam jurnal Chemical Senses, yang menyarankan bahwa senyawa ini bisa memiliki efek kecil dalam membantu membakar lemak.

Pada saat yang sama, banyak orang yang bertanya-tanya apakah makan terlalu banyak makanan pedas dapat memiliki efek kesehatan yang negatif, seperti masalah pencernaan, hingga kanker. Seperti yang dijelaskan dalam publikasi di jurnal Cancer Research, menerapkan capsaicin pada kulit tikus dalam jangka waktu yang lama menghasilkan peningkatan potensi kanker kulit.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA