Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Jabar Terus Pantau Harga Sembako di Pasar

Kamis 19 Dec 2019 16:38 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Dwi Murdaningsih

Harga sembako terus diawasi.   (ilustrasi)

Harga sembako terus diawasi. (ilustrasi)

Foto: Republika/Aditya Pradana Putra
Indag Jabar menggandeng ritel untuk mengendalikan harga sembako.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Indag) Jawa Barat aktif melakukan pemantauan harga barang kebutuhan pokok. Jabar menjadi satu dari 15 provinsi yang menjadi pantauan utama perkembangan harga. 

Menurut Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Indag Jawa Barat, Eem Sujaemah, pihaknya aktif melakukan pengendalian inflasi melalui pengawasan harga dan stok barang pokok di Jawa Barat menjelang Natal 2019 dan Tahun Baru 2020. 

“Kita termasuk 15 provinsi pantauan utama selain DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan lain-lain,” ujar Eem di acara Jabar Punya Informasi (Japri) di Gedung Sate, Bandung, Kamis (19/12).

Eem mengatakan, berdasarkan data pantauan harga selama periode 2019, perkembangan harga barang kebutuhan pokok cukup stabil, kecuali komoditas cabai. Bahkan, Dibandingkan data Bahan Pokok Nasional, harga di Jawa Barat sebagian besar relatif lebih murah.  

“Untuk cabai merah, cabai rawit dan bawang merah, Jawa Barat relatif lebih mahal dibanding nasional,” katanya.

Harga cabai, kata dia, mengalami lonjakan harga pada Juli 2019 lalu diakibatkan kemarau berkepanjangan dan serangan penyakit. Kondisi ini, menyebabkan stok cabai ke pasar di Jawa Barat berkurang. “Yang diperkirakan naik pada Desember ini telur ayam broiler dan bawang merah, karena stoknya di Jawa Tengah defisit,” katanya.

Sementara harga rata-rata beras yang diwakili oleh jenis IR64/II, kata dia, saat ini di Jawa Barat lebih stabil bahkan cenderung rata-rata lebih rendah dari harga nasional. Untuk komoditi bahan pokok lainnya, terpantau stabil mulai Januari-November.

"Mudah-mudahan tidak ada lonjakan sampai akhir tahun 2019 nanti,” kata Eem.

Sementara menurut Kadis Indag Mohammad Arifin Soendjayana, pihaknya menggandeng retail guna memastikan gejolak kenaikan harga barang pokok tetap terkendali. Arifin pun, meminta agar kondisi ini terus terjaga, pihak Asosiasi Aprindo menjadi stabilisator harga kebutuhan. “Karena kalau ritel turun yang lain juga mengikuti. Mudah-mudahan terkendali pasokan aman baik untuk retail dan pasar tradisional,” katanya.

Arifin optimistis, permintaan tersebut bisa efektif mengingat anggota Aprindo di Jawa Barat cukup banyak. Jadi, mengendalikan harga di retail sendiri lebih mudah ketimbang pasar tradisional. “Kalau harga telur gila-gilaan saya cukup bilang ke retail untuk minta turun, karena mereka sudah punya margin,” katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA