Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Dialog Pemimpin Agama Kunci Wujudkan Perdamaian Dunia

Rabu 18 Dec 2019 19:51 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

Sekjen King Abdul Aziz International Centre for Interfaith and Intercultural Dialogue (KAICIID) Faisal bin Muaammar memberikan sambutan pada acara The 2nd International Workshop on Fostering Inter and Intra Religious Dialogue to Prevent and Mitigate Conflicts in South and South-East Asia di Jakarta, Rabu (18/12).

Sekjen King Abdul Aziz International Centre for Interfaith and Intercultural Dialogue (KAICIID) Faisal bin Muaammar memberikan sambutan pada acara The 2nd International Workshop on Fostering Inter and Intra Religious Dialogue to Prevent and Mitigate Conflicts in South and South-East Asia di Jakarta, Rabu (18/12).

Foto: Republika/Prayogi
Dialog pemimpin agama selama ini kurang dianggap strategis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – King Abdul Aziz International Centre for Interfaith and Intercultural Dialogue (KAICIID) berpandangan, satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian dengan membawa para pemimpin agama-agama ke meja dialog. Sejauh ini upaya KAICIID untuk membuat setiap pihak dan orang saling terhubung dinilai sudah sangat bagus. 

Sekretaris Jenderal KAICIID, Faisal bin Abdulrahman bin Muaammar, mengatakan banyak masyarakat di dunia menemui kesulitan terutama jika menyangkut agama. Maka satu-satunya cara untuk mendapatkan jalan keluar dari permasalahan ini dengan jalan dialog. 

Baca Juga

"Ada harta karun di tangan para pemimpin agama-agama, ketika mereka terhubung melalui saluran yang tepat untuk membuat kebijakan, saya pikir kita sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan," kata Faisal kepada Republika.co.id di Hotel Borobudur saat Lokakarya Internasional ke-2 tentang Membina Dialog Antaragama dan Intra Agama Untuk Mengurangi Konflik di Asia Selatan dan Tenggara, Rabu (18/12).  

Dia menyampaikan, mayoritas orang-orang baik bersikap diam. Sebenarnya jika mereka yang mayoritas bekerja bersama maka tidak ada ruang lagi untuk ekstremisme. Menurutnya, ekstremisme seperti virus. Ketika orang-orang memberi celah atau ruang, ekstremisme akan tumbuh dan menyerang.  

Tapi sekarang KAICIID banyak melihat inisiatif baik dari berbagai institusi, tidak hanya dari KAICIID dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Maka perlu dikembangkan kemampuan berdialog untuk bisa membangun perdamaian.  

"Kita tidak memiliki kekuatan kecuali keahlian dalam berdialog, bagaimana cara menggunakan instrumen antaragama untuk menghubungkan orang-orang, dan ini salah satu cara untuk membangun perdamaian di dunia," ujarnya. 

Lokakarya Internasional ke-2 tentang Membina Dialog Antaragama dan Intra Agama Untuk Mengurangi Konflik di Asia Selatan dan Tenggara diselenggarakan KAICIID dan Organization of Islamic Cooperation (OIC). Mereka bekerjasama dengan Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) dan Gusdurian Foundation.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA