Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Penghentian Produksi Boeing 737 Max Berdampak ke Ekonomi AS

Rabu 18 Dec 2019 14:13 WIB

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Friska Yolanda

Pesawat Boeing 737 MAX 8 tengah uji terbang di lapangan udara Renton, Washington, Amerika Serikat.

Pesawat Boeing 737 MAX 8 tengah uji terbang di lapangan udara Renton, Washington, Amerika Serikat.

Foto: AP Photo/Ted S. Warren
Penghentian produksi Boeing akan memangkas pertumbuhan perusahaan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Keputusan Boeing Co untuk menghentikan produksi pesawat terlarisnya 737 MAX yang terlibat dalam dua kecelakaan fatal diprediksi akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan kepegawingan AS. Namun efek tersebut diprediksi singkat dan terkonsentrasi di daerah-daerah.

Ekonom memperkirakan, penghentian perakitan setelah lebih dari dua dekade di Boeing dapat memangkas pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal pertama 2020, setidaknya setengah poin persentase. Pertumbuhan PDB akan datang dari persediaan yang lebih kecil.

Baca Juga

Boeing cukup memegang kendali dalam ekonomi AS sebagai pengekspor barang-barang AS terbesar dan juga sebagai bobot terbesar dalam saham Dow Jones Industrial (DJI). Pemangkasan berdampak pada kondisi tersebut.

Penangguhan produksi terjadi karena sektor manufaktur mulai bangkit kembali setelah ditekan oleh perang dagang 17 bulan antara Amerika Serikat dan China. Hal itu juga telah mengikis sentimen bisnis dan membantu mengurangi pengeluaran modal.

Sejak pembekuan Boeing 737 MAX pada Maret yang berimbas pada pembekuan pengiriman, produsen pesawat melanjutkan produksi. Lonjakan yang dihasilkan dalam inventaris pesawat mengimbangi hambatan pertumbuhan PDB dari berkurangnya ekspor dan pengeluaran bisnis untuk peralatan.

"Dengan pengiriman pesawat yang sudah terhenti, ekspor dan investasi dalam pesawat tidak mungkin jatuh lebih jauh," kata Michael Pearce, seorang ekonom senior AS di Capital Economics di New York.

Ekonom tidak bisa memprediksi dampak pada pertumbuhan selama setahun penuh karena produksi pesawat akan dilakukan kembali pada 2020. "Setelah produksi dilanjutkan, kami berharap juga melihat efek yang cukup besar melalui akun PDB," kata Robert Rosner, seorang ekonom di Morgan Stanley di New York.

Boeing telah memberikan kontribusi penting bagi kekayaan investor. Meski harga sahamnya telah kehilangan seperempat dari nilainya sejak Maret, ia tetap menjadi salah satu saham berkinerja terbaik dalam dekade terakhir, mendapatkan lebih dari 500 persen, kira-kira tiga kali kenaikan untuk seluruh Dow.

Nilai pasar totalnya telah meningkat hampir 145 miliar dolar AS dalam 10 tahun, dan telah memberikan 62 miliar dolar AS kepada para investornya dalam bentuk dividen dan pembelian kembali saham.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA