Tuesday, 1 Ramadhan 1442 / 13 April 2021

Tuesday, 1 Ramadhan 1442 / 13 April 2021

Cuan dari Pasar Kedai Kopi Indonesia

Selasa 17 Dec 2019 19:37 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari

Tren kedai coffee to go seperti Kopi Tuku di Cipete, Jaksel, berkontribusi besar ke bisnis kedai kopi Tanah Air.

Tren kedai coffee to go seperti Kopi Tuku di Cipete, Jaksel, berkontribusi besar ke bisnis kedai kopi Tanah Air.

Foto: Rol/Abdul Kodir
Nilai pasar kedai kopi Indonesia ditaksir mencapai Rp 4,8 triliun per tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perusahaan penyedia barang dan jasa di industri Hotel Restoran dan kafe (Horeka) Toffin Indonesia menaksir nilai pasar kedai kopi di Indonesia mencapai Rp 4,8 triliun per tahun. Asumsi itu didapat dari jumlah gerai yang terdata saat ini. Lalu memperhitungkan penjualan rata-rata per outlet sebanyak 200 cangkir per hari, serta harga kopi per cangkir sebesar Rp 22.500.

Proyeksi tersebut didapat Toffin berdasarkan insight dari konsumen yang dikumpulkan melalui survei daring. Yaitu ke kalangan muda generasi Y dan Z penggemar kopi di Indonesia. Hasil survei tersebut antara lain menunjukkan, kedai coffee to go yang menyediakan RTD Coffee berkualitas harga terjangkau sangat diminati.

Dalam setahun terakhir, sebanyak 40 persen generasi Y dan Z membeli minuman kopinya dari gerai kopi jenis ini. Rata-rata alokasi belanja untuk minuman kopinya sebesar Rp 200 ribu per bulan.

Toffin menyebutkan, ada tujuh faktor pendorong pertumbuhan bisnis kedai kopi di Tanah Air. Pertama, kebiasaan atau budaya nongkrong sambil minum kopi.

Kedua, meningkatnya daya beli konsumen. "Tumbuhnya kelas menengah, dan harga RTD (Ready to Drink) Coffee di kedai modern yang lebih terjangkau," ujar Vice President Sales and Marketing Toffin Indonesia Nicky Kusuma kepada wartawan di Jakarta, Selasa, (17/12).

Ketiga, lanjutnya, dominasi populasi anak muda Indonesia yang menciptakan gaya hidup baru dalam mengonsumsi kopi. Keempat, kehadiran media sosial yang memudahkan pebisnis kedai kopi melakukan aktivitas marketing dan promosi.

Berikutnya kelima, kehadiran platform ride hailing (Grabfood dan Gofood) yang memudahkan proses penjualan. Lalu keenam, rendahnya entries barriers dalam bisnis kopi yang ditunjang dengan ketersediaan pasokan bahan baku, peralatan (mesin kopi), dan sumber daya untuk membangun bisnis kedai kopi.

"Ketujuh atau terakhir, margin bisnis kedai kopi yang relatif cukup tinggi," ujar Nicky. Melihat perkembangan beberapa faktor pendorong tersebut, ia memperkirakan bisnis kedai kopi di Indonesia pada tahun depan masih akan positif.

Head of Marketing Toffin Ario Fajar menambahkan, Toffin berkepentingan mendukung para pelaku usaha kedai kopi di Indonesia. Tujuannya agar bisnis mereka bisa bertahan dan berkompetisi.

"Para pelaku bisnis perlu tahu apa yang sedang tren. Lalu bagaimana peta persaingannya, dan seperti apa proyeksi bisnis ke depannya,” ujar Ario pada kesempatan serupa.

Para pelaku bisnis kedai kopi di Indonesia membagi perjalanan industri ini ke dalam empat gelombang besar. Toffin bersama MIX MarComm mencoba menengarai keempat gelombang tersebut berdasarkan momentum masuknya merek-merek kedai kopi fenomenal ke dalam industri ini di Indonesia.

Gelombang pertama yakni pada dekade 1980-1990-an. Pada masa ini, sebagian besar masyarakat Indonesia menikmati kopi instan (dalam kemasan saset) yang disediakan oleh manufaktur produk-produk konsumer (kopi ABC, Kapal Api, Torabika, Nescafe) dan kopi tubruk tidak bermerek.

Pada masa itu produk RTD Coffee lebih banyak disediakan oleh warung kopi tradisional. Gerai kopi modern masih sedikit yaitu Dunkin (1985), Olala (1990), dan Excelso (1991).

Selanjutnya gelombang kedu pada dekade 2000. Pada masa ini tren minum kopi di kedai kopi modern mulai berubah dari tren untuk memenuhi kebutuhan fungsional (minum kopi untuk menyegarkan) menjadi untuk memenuhi kebutuhan emosional, mereka menikmati segelas kopi di gerai modern dipersepsi dapat menaikkan gengsi. Masa ini ditandai dengan masuknya jenama jaringan kedai kopi modern dari Amerika Serikat Starbucks (2002) dan Coffee Bean (2001).

Gelombang ketiga yakni awal dekade 2010 hingga 2015. Ini masa apresiasi konsumen terhadap kopi makin meningkat yang ditandai dengan hadirnya kedai kopi artisan seperti Tanamera pada 2013.

Pada masa ini konsumen tidak hanya menikmati gengsi minum kopi di kafe, melainkan mulai tertarik dengan proses produksi secangkir kopi. Kehadiran mesin kopi menjadi referensi visual bagi konsumen. Para pebisnis juga semakin menyadari seksinya bisnis kedai kopi di Indonesia. Banyak brand baru mulai masuk ke pasar.

Terakhir, gelombang keempat yaitu 2016 sampai sekarang. Pada masa ini besarnya pasar atau market size kedai kopi di Indonesia meningkat signifikan. Jenama baru kedai kopi bermunculan dan masing-masing langsung ekspansif membuka puluhan hingga ratusan cabang di berbagai kota.

Demi menggarap segmen muda, para pebisnis kedai kopi ini membuka kedai coffee to go, yaitu kedai kecil yang menyediakan fresh RTD Coffee dengan harga terjangkau untuk dibawa pulang atau tidak dikonsumsi di tempat (take away). Kehadiran platform ride hailing Gofood dan Grabfood ikut mendorong tren kedai coffee to go ini.

photo
Kedai kopi tumbuh berjamur di Indonesia. Pemainnya bukan hanya kedai kopi asing.

Peluang kedai kopi
Jumlah kedai kopi di kota-kota besar terus bertambah. Walaupun sudah banyak bermunculan, peluang untuk kedai kopi baru masih besar, demikian tutur Head Coffee Curator Gordi, Arief Said.

“Peluangnya besar karena memang sudah ada data survei dari Departemen Perdagangan bahwa ternyata konsumsi kopi meningkat hampir 15 persen per tahunnya selama beberapa tahun. Sedangkan produksi kopinya sendiri di Indonesia masih lima persen pertumbuhannya. Jadi ini kondisi di mana kita lumayan over demand. Memang pertumbuhannya sangat besar,” ujarnya.

Bagi mereka yang baru masuk industri kopi, Arief menyarankan untuk mencari identitas yang mau dibawa kedai kopinya. Kalaupun belum ada identitas spesifik yang mau dibawa, menurutnya juga tidak masalah.

“Coffee shop itu masih neighbourhood sekali, masih bergantung pada tetangga yang ada di coffee shop tersebut. Karena kondisi Jakarta macet, dari satu tempat ke tempat lainnya. Jadi mengapa akhirnya kopi Kulo, Janji jiwa, pop up di mana-mana harapannya di daerah lingkungan itu saja bisa meraja dan mendapatkan pelanggan mereka.”

Arief menambahkan dengan pertumbuhan konsumsi kopi, pada akhirnya pelanggan pun menjadi tidak loyal pada suatu merek. Kalau sudah minum kopi A, mereka bisa saja minum yang lain.

“Bahkan pagi ngopi di Anomali, sore di Starbucks, nanti malam kumpulnya di Common Grounds. Bukan hal buruk dengan banyaknya pemain di industri kopi saat ini,” ujarnya.

Agar kedai kopi bisa bertahan, menurut Arief butuh keterlibatan pemilik. Entah pemilik ada di kedai kopi hanya untuk memantau, membantu membuatkan kopi atau lainnya. Hal ini membuat suatu merek mempunyai jiwa, sehingga mereka bisa lebih adaptasi dengan permintaan pasar.

“Ternyata pasar butuh bukan seperti ini, tapi butuh seperti es kopi susu Tuku misalnya. Kebutuhan seperti ini tidak bisa dilepaskan begitu saja, tapi memang harus dari para pemilik tersebut yang bisa mendengarkan, menyerap, dan menganalisa kebutuhan bisnisnya sehingga pada akhirnya bisa membuat keputusan ke arah bisnisnya dia mau kemana,” jelasnya.

Tapi apa kop seperti apa yang sebenarnya digemari peminum kopi Indonesia? Ternyata mencari rasa yang digemari lidah orang Indonesia pada umumnya tidak semudah yang dikira. Pemilik Kopi Tuku, Andanu Prasetyo mengatakan ia harus melakukan riset terlebih dulu sebelum berhasil mengembangkan bisnis kopinya.

"Itu salah satu tujuan utama saya dalam membangun toko kopi. Saya ingin memberikan dampak terhadap industri kopi. Tahapan pertamanya adalah mengetahui bagaimana mereka bisa membeli setiap hari, berapa harga yang mau mereka bayar setiap hari, rasa apa yang mereka cari," ungkap Andanu Prasetyo.

Percobaan pertama yang ia lakukan dengan Kopi Tuku terjawab bahwa kopi susu diminati. Apakah itu berarti rasa yang dicari orang Indonesia, ia mengaku belum tahu. Justru itu akan menjadi tantangan yang membuatnya terus tertarik untuk belajar, mengenal betul konsumen Indonesia dan mengenal betul sejarah kopi Indonesia.

"Peminum kopi di Pontianak, Makassar, Flores, punya cara minum kopi masing-masing, dengan kudapannya masing-masing, dengan gaya toko kopinya masing-masing. Jadi kalau dibilang kopi Indonesia buat saya sulit untuk saya menjawab karena begitu banyak sejarah dan ilmu yang harus saya pelajari," ujarnya.

Kopi Tuku memiliki misi utamanya meningkatkan konsumsi kopi Indonesia. Mereka harus jadi ingin minum kopi dari jarang jadi sering, dari segelas menjadi dua gelas dan jadi setiap hari. Dan untuk bisa melakukan itu ia harus mencari rasa paling pas buat mereka.

"Dan yang saya lakukan hanya dengan mencoba membuatnya dan menanyakan bagaimana pendapat mereka. Hal terkecil yang bisa saya lakukan hanya itu. Kalau dibilang caranya saya hanya observasi bersama tetangga makanya namanya kopi tetangga. Karena itu sebuah produk yang saya hasilkan dari nanya-nanya, testing bareng, percobaan bersama, ide bersama," tambahnya.

Untuk membuat es kopi susu Andanu mengaku memerlukan waktu beberapa minggu untuk uji coba menemukan formula yang pas. Permintaan dan muncul ide membuat es kopi susu terjadi empat bulan setelah buka dan dieksekusi tidak sampai satu bulan.



BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA