Saturday, 12 Ramadhan 1442 / 24 April 2021

Saturday, 12 Ramadhan 1442 / 24 April 2021

Pemerintah Masih Upayakan Penyelamatan Sandera Abu Sayyaf

Rabu 18 Dec 2019 01:43 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Esthi Maharani

Menko Polhukam Mahfud MD

Menko Polhukam Mahfud MD

Foto: Republika/Prayogi
Pemerintah merahasiakan langkah untuk penyelamatan sandera Abu Sayyaf

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia akan terus berusaha membebaskan tiga orang warga negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok teroris Abu Sayyaf di Filipina. Upaya tersebut akan dilakukan tanpa menodai kedaulatan negara Indonesia maupun negara yang terkait dengan kejadian penyanderaan itu.

“Kita akan melanjutkan langkah-langkah yang sudah diambil selama ini, untuk tetap berusaha membebaskan tersandera tanpa korban jiwa dan tanpa menodai kedaulatan negara kita maupun kedaulatan negara-negara yang bersangkutan,” ujar Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, usai rapat dengan kementerian lembaga terkait di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (17/12).

Mahfud enggan membuka langkah seperti apa yang akan pemerintah ambil untuk membebaskan tiga WNI yang sudah tersandera sejak November lalu itu. Tapi, ia memastikan, pemerintah sudah menentukan langkah dengan berbagai tahapan yang akan dilakukan ke depan.

“Pokoknya kami sudah kompak sudah punya solusi langkah-langkah yang dengan berbagai tahapannya gitu. Pokoknya kita akan menyelamatkan karena negara harus bertanggung jawab atas keselamatan warganya,” jelas dia.

Seperti diketahui, tiga WNI yang berprofesi sebagai nelayan berasal dari Baubau dan Wakatobi Sulawesi Tenggara yaitu Maharudin Lunani (48), putranya, Muhammad Farhan (27), dan kru kapal Samiun Maneu (27) disandera kelompok Abu Sayyaf setelah diculik dari kapal yang berlayar di perairan Tambisan, Lahad Datu, Sabah, Malaysia.

Perairan itu memang dikenal rawan pembajakan dan penyanderaan oleh kelompok bersenjata dari selatan Filipina seperti Abu Sayyaf. Dalam video berdurasi 43 detik tersebut, ketiga WNI yang disandera tersebut meminta pemerintah membantu pembebasan mereka.

"Kami bekerja di Malaysia. Kami ditangkap Kelompok Abu Sayyaf pada 24 September 2019. Kami harap bos kami bantu kami untuk bebaskan kami," kata Samiun menggunakan bahasa Indonesia dalam video tersebut.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA