Sunday, 4 Syawwal 1442 / 16 May 2021

Sunday, 4 Syawwal 1442 / 16 May 2021

Akademisi Dorong Pemda Perkuat Sinergi Antisipasi Bencana

Senin 16 Dec 2019 23:54 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Bencana alam (ilustrasi).

Bencana alam (ilustrasi).

Foto: Antara/Embong Salampessy
Pemda perlu berkoordinasi dengan semua dinas terkait persiapan mengantisipasi bencana

REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO -- Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Dr. Indra Permanajati mendorong pemerintah daerah untuk terus memperkuat sinergitas dalam rangka mengantisipasi bencana alam musim hujan.

"Memasuki musim hujan ini, persiapan yang perlu dilakukan pemerintah daerah adalah melakukan koordinasi dengan semua dinas terkait mengenai persiapan atau langkah yang dilakukan bila terjadi bencana," katanya di Purwokerto, Senin (16/12).

Koordinator Bidang Bencana Geologi Pusat Mitigasi Unsoed tersebut, mengatakan dengan adanya sinergitas maka langkah taktis bisa dipersiapkan dengan baik.

"Dengan demikian pelaksanaan tanggap darurat saat terjadi bencana juga akan berjalan dengan baik dan cepat," katanya.

Selain itu, kata dia, pemerintah daerah juga perlu terus meningkatkan sosialisasi mengenai upaya pengurangan risiko bencana kepada seluruh masyarakat di wilayahnya.

Dia menambahkan berbagai persiapan perlu untuk dilakukan dalam rangka menghadapi musim hujan dan mengantisipasi bencana hidrometeorologi.

Dia menjelaskan bencana hidrometeorologi adalah bencana yang dipengaruhi oleh fluktuasi keberadaan air yang ada di dalamnya termasuk curah hujan.

"Bencana ini meliputi bencana banjir, longsor, angin puting beliung, dan bencana lain karena kondisi cuaca dan peningkatan intensitas air saat musim hujan seperti sekarang ini," katanya.

Dia menambahkan pemerintah daerah juga perlu meningkatkan kesadaran masyarakat terkait upaya mitigasi atau pengurangan risiko bencana.

"Yang paling penting adalah meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa bencana bisa terjadi ketika alam mulai terganggu keseimbangannya. Seperti kasus banjir bandang yang bisa terjadi karena pengurangan resapan air.

Ia menjelaskan pengurangan resapan air akan meningkatkan intensitas air permukaan dan terkonversi menjadi banjir bandang sehingga perlu upaya pencegahan, misalkan dengan mengintensifkan reboisasi.

Selain itu, dia mengingatkan bahwa kegiatan penebangan pohon harus berorientasi tetap terjaganya daerah resapan.

"Misalnya sistem penanaman harus bergradasi, artinya pohon yang akan ditebang harus sudah ada tanaman yang menggantikan dan menopangnya sehingga fungsi tanaman sebagai komponen yang dapat dijadikan media untuk peresapan air selalu terjaga," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA