Friday, 12 Rajab 1444 / 03 February 2023

Kopi Gambut, Liberika Harapan Pengusir Api di Meranti

Selasa 17 Dec 2019 06:02 WIB

Red: Nur Aini

Kopi (Ilustrasi)

Kopi (Ilustrasi)

Foto: Flickr
Petani di Meranti menanam kopi jenis liberika di lahan gambut.

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- Kopi gambut, begitu masyarakat setempat biasa menyebut. Kopi yang sejatinya jenis liberika itu kini tengah naik daun di kalangan petani Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

Komoditas itu disebut cukup bersahabat dengan kontur lahan di Meranti, gugusan pulau yang berada di bibir Selat Malaka dan mayoritas tertutupi bantalan tanah organik, gambut. Pengelolaan lahan gambut yang salah kerap dituding sebagai masalah saat musim kemarau tiba. Gambut rusak akibat pembabatan hutan selama puluhan tahun menjadi bahan bakar tak terbatas. Dampaknya, kebakaran lahan meluas, sulit untuk dikendalikan dan membuat negeri jiran was-was.

Baca Juga

Belakangan sejumlah pihak menyebutkan bahwa tanaman kopi bisa menjadi solusi menghentikan penyebaran api saat kemarau tiba. Kopi juga disebut memiliki nilai ekonomi tinggi, tak kalah dibandingkan dengan komoditas lain yang dituduh penyumbang kerusakan.

"Kopi ini tanaman yang bersahabat," kata Rahmat, pemuda berusia 38 tahun yang berasal dari pedalaman Kepulauan Meranti.

Rahmat mengatakan sejak dua dekade lalu, kopi telah menjadi bagian dari masyarakat Kepulauan Meranti. Masyarakat menanam kopi, bersama dengan tanaman lainnya seperti pinang dan kelapa. Menurut dia, kopi membutuhkan tanaman pelindung, asal bukan sawit.

Pada 1997, saat badai krisis menghantam Indonesia, perlahan kopi mulai memudar. Masyarakat banyak beralih ke tanaman yang secara fisiologis tidak bersahabat dengan gambut. Dampaknya, gambut rusak dan mudah terbakar, hingga kini.

Dua tahun terakhir, pelan tapi pasti pamor kopi gambut mulai meningkat. Rahmat, yang juga petani kopi mengambil peluang itu. Dia lantas membentuk kelompok masyarakat.

Kini, tak kurang 20 petani telah menanam kopi liberika di Kecamatan Rangsang, Meranti. Mereka tergabung dalam kelompok Bina Sempian. Langkah kecil Rahmat mendapat perhatian besar. Salah satunya dari Badan Restorasi Gambut (BRG). Melalui program R3 atau revitalisasi ekonomi, BRG memberikan dukungan peralatan memproduksi kopi hingga pembinaan dalam usaha budidaya kopi liberika.

Dukungan serupa diperoleh Rahmat dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti serta Provinsi Riau. Melalui Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi, kini kopi gambut siap menjangkau pasar lebih luas.

Kopi gambut, begitu merek dagang yang dipilih Rahmat dalam dua jenis kemasan menarik. Upaya Rahmat merebut hati penikmat kopi gambut juga dilakukan dengan membuka kedai kopi kecil di Kota Pekanbaru, ibu kota provinsi Riau.

Selain itu, dia aktif memperkenalkan kopi gambut-nya di berbagai pameran. Hasilnya luar biasa, masyarakat menyambut baik citarasa kopi gambut dengan aroma unik, dan lebih mirip Arabika meski tak sekuat robusta itu.

"Sudah satu bulan saya buka di Pekanbaru dan aktif mengikuti ajang pameran. Alhamdulillah hasilnya luar biasa. Sekarang sekitar 50 kilogram kopi habis di kedai saya untuk satu bulan pertama," ujarnya.

Rahmat berharap keberadaan kopi bisa menjadi salah satu opsi bagi pemerintah untuk menekan kebakaran gambut di Meranti, dan Riau secara luas. Hal itu mengingat sebagian besar Bumi Lancang Kuning itu ditutupi bantalan gambut yang membutuhkan perlakuan khusus.

Gubernur Riau Syamsuar juga menyadari betapa kopi bisa menjadi salah satu pilihan mengatasi ganasnya api saat musim kering tiba. Dia mengatakan, tanaman kopi Liberika dinilai layak dikembangkan di Provinsi Riau. Apalagi, wilayah pesisir mayoritas merupakan lahan gambut.

Selain itu, Syamsuar mengatakan komoditas kopi saat ini diterima dengan baik di pasar dunia internasional dan sukses dibudidayakan di wilayah Kepulauan Meranti. Menurutnya, kopi cocok ditanam di lahan bekas terbakar. Penanamankopi di areal yang terpanggang oleh kebakaran lahan dan hutan merupakan salah satu solusi.

"Kami tidak berharap di situ ditanami dengan tanaman sawit lagi," kata Syamsuar belum lama ini.

Ia menyebut masyarakat Provinsi Riau masih memiliki pola pikir bahwa sawit merupakan sumber kehidupan utama. Padahal, kopi seperti jenis Liberika telah sukses dikembangkan di wilayah pesisir, seperti Kepulauan Meranti, Riau.

Untuk itu, dia berharap kepada Kementerian Pertanian dapat membantu penyediaan bibit kopi untuk bisa dikembangkan di wilayah bekas Karhutla.

"Kalau bisa ada bibit dari pemerintah, yang bisa cocok dengan tanaman gambut bekas terbakar. Jadi kalau bisa kita ekspor, salah satunya kopi. Itu jadi ikon internasional," ujarnya.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA