Wednesday, 27 Jumadil Awwal 1441 / 22 January 2020

Wednesday, 27 Jumadil Awwal 1441 / 22 January 2020

Rawan Longsor, BPBD Kota Bogor akan Pasang Deteksi Longsor

Ahad 08 Dec 2019 14:42 WIB

Rep: Nugroho Habibi/ Red: Ratna Puspita

Longsor di Kampung Batu Tapak, Cibalagung, Kelurahan Pasir Jaya, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (6/12/2019). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor berencana memasang alat pendeteksi longsor di semua titik.

Longsor di Kampung Batu Tapak, Cibalagung, Kelurahan Pasir Jaya, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (6/12/2019). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor berencana memasang alat pendeteksi longsor di semua titik.

Foto: Antara/Arif Firmansyah
Bencana tanah longsor menjadi yang paling sering di Kota Bogor dengan 155 peristiwa.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor menyatakan longsor menjadi bencana yang paling sering terjadi di Kota Bogor. Untuk mengantisipasi itu, BPBD berencana memasang alat pendeteksi longsor di semua titik.

Baca Juga

Kepala BPBD Kota Bogor Juniarti Estiningsih menjelaskan, BPBD hanya memiliki satu alat early warning system (EWS) yang berfungsi untuk mendeteksi pergerakan tanah untuk mengetahui potensi bencana longsor. "Ya itu (EWS), kita pasang di Kelurahan Bojongkerta, Kecamatan Bogor Selatan," kata Esti, di Kota Bogor, Ahad (8/12).

Esti menjelaskan, EWS longsor berasal dari bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan ilmuan dari Universitas Gajah Mada (UGM). EWS, kata Esti, untuk mengetahui lebih dini potensi bencana longsor di Kota Bogor.

Kedepannya, Esti menjelaskan, akan menjalin kerja sama dengan ilmuan asal UGM. Dengan begitu, Esti menyebut, masyarakat dapat mengerti dan mengetahui lebih dini gejala dan potensi longsor di daerah masing-masing. 

"Nanti kami menggandeng dari pihak penyedia teknologinya itu, yang memang orang UGM," jelasnya.

Esti mengatakan, BPBD akan mencoba melakukan negosiasi dengan ilmuan UGM untuk menyediakan EWS yang lebih ekonomis. Sehingga, kelurahan di Kota Bogor dapat memiliki alat untuk mendeteksi bencana longsor. 

"Kita sudah berbicara dengan orang yang buat (ilmuan UGM) dan 2020 beliau sudah siap akan berikan sosialisasi terkait dengan alat ini. Dan mungkin nantinya dapat membuat alat yang cukup dengan biaya Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta," harapnya. 

Esti menjelaskan, EWS yang dipasang di Kelurahan Bojongkerta menelan biaya hingga ratusan juta. "Kalau dibantu oleh BNPB itu ratusan juta ya harganya. Tapi dengan satu alat itu, kita juga terima kasih sekali kita dapat bertemu dengan ahli-ahli UGM," jelasnya.

Berdasarkan data BPBD Kota Bogor tercatat telah terjadi 558 peristiwa bencana sejak Januari-September 2019. Bencana tanah longsor menjadi yang paling sering dengan 155 peristiwa.

Pohon tumbang 133 kali, 117 rumah roboh, dan 62 peristiwa lainnya mulai dari evakuasi mayat, evakuasi binatang, kecelakaan kereta api hingga kekeringan. Selain itu, ada juga 54 peristiwa kebakaran, 24 kali banjir dan 13 tanah amblas.

Terbaru, sebuah jembatan sepanjang 10 meter roboh di Kelurahan Pasir Jaya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Kamis (5/12). "Sebetulnya hampir semua daerah Kota Bogor itu kawasan longsor, karena menag longsor itu menduduki peringkat satu (bencana di Kota Bogor)," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA