Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Kondisi Air Sungai Bengawan Solo Berangsur Normal

Kamis 28 Nov 2019 20:16 WIB

Rep: Binti Sholikah/ Red: Christiyaningsih

Warga melintasi jembatan bambu di atas Sungai Bengawan Solo yang menghubungkan Desa Mojolaban, Sukoharjo dengan Kampung Sewu di Solo, Jawa Tengah, Rabu (19/6/2019).

Warga melintasi jembatan bambu di atas Sungai Bengawan Solo yang menghubungkan Desa Mojolaban, Sukoharjo dengan Kampung Sewu di Solo, Jawa Tengah, Rabu (19/6/2019).

Foto: Antara/Mohammad Ayudha
Pada awal November air sungai Bengawan Solo mengalami pencemaran

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Kondisi Sungai Bengawan Solo yang dijadikan sumber air baku Perumda Air Minum (PDAM) Toya Wening Solo sudah lebih baik dibandingkan pada awal November 2019. Pada awal November 2019, air sungai Bengawan Solo mengalami pencemaran. PDAM Solo terpaksa menghentikan operasional tiga Instalasi Pengolahan Air (IPA) yakni IPA Semanggi, IPA Jebres, dan IPA Jurug.

Pejabat Pemberi Informasi dan Dokumentasi PDAM Toya Wening, Bayu Tunggul, mengatakan kondisi air baku dari Sungai Bengawan Solo semakin normal meskipun masih ada pencemaran.

"Yang pertama, karena musim juga sudah mulai hujan. Kedua, kemarin memang teman-teman Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi dan kabupaten/kota sudah mengambil sampel dan mungkin sudah memberi tahu kepada teman-teman yang UMKM itu batik dan sebagainya. Tapi kalau limbah alkohol itu sampai sekarang instalasi pengolahan air limbah (IPAL) belum ada dan tetap dibuang. Itu jangka pendek tidak bisa," kata Bayu kepada wartawan, Kamis (28/11).

Sejak PDAM menghentikan operasional tiga IPA pada awal November 2019, sampai sekarang sudah tidak dilakukan lagi penghentian operasional IPA. Operasional IPA dihentikan jika kondisi air baku dari Bengawan Solo benar-benar tidak bisa diolah.
Penghentian operasional biasanya tidak sampai enam jam sehingga tidak mengganggu distribusi air ke pelanggan. Sebab, masih ada cadangan dari reservoir untuk enam sampai delapan jam suplai air ke pelanggan.

"Kami tetap operasional produksi, walaupun sempat kadang kalau pas hujannya sedikit limbahnya masuk itu kami hentikan operasinal IPA, tapi tidak sampai enam jam," jelasnya.

Bayu menambahkan kondisi IPA Semanggi sedikit berbeda dengan IPA Jurug. Air yang masuk ke IPA Semanggi biasanya kondisinya lebih tercemar dibandingkan air yang menuju IPA Jurug. Sebab, IPA semanggi posisinya berada di dekat tempuran Kali Samin dan dekat dengan muara Kali Jenes, Kali Pepe dan Kali Premulung. Kali Pepe biasanya membawa limbah alkohol, sedangkan Kali Jenes dan Kali Premulung membawa limbah tekstil.

IPA Jurug posisinya lebih ke utara sehingga masih ada pengenceran. "IPA Jurug itu bisa ditambah lumpur untuk mengikat warna dan sebagainya. Kalau yang IPA Semanggi tidak bisa. Karena sudah lebih modern IPA Semanggi, untuk memantau menggunakan sistem informasi itu dilihat dari monitor saja, kalau IPA Jurug kan masih manual," paparnya.

Dengan intensitas hujan yang semakin sering, Bayu optimistis kondisi air Sungai Bengawan Solo semakin bagus. Dengan demikian operasional tiga IPA yang dikelola PDAM Solo tidak terganggu.

Pencemaran Sungai Bengawan Solo juga terjadi di Kabupaten Blora. Hal itu menyebabkan PDAM Blora menghentikan operasional IPA sehingga berdampak pada 12 ribu pelanggan.

Terkait pencemaran Sungai Bengawan Solo yang mengalir di Blora, Bayu memperkirakan pencemaran tersebut merupakan akumulasi dari tumpukan limbah yang berasal dari Solo, Karanganyar, dan Sragen. Berdasarkan informasi yang dia peroleh, isu tersebut dua bulan lalu sudah diangkat ke level Kemenko Bidang Maritim dan Direktur PDAM Cepu sudah diajak rapat di tingkat Provinsi Jawa Tengah sampai ke Jakarta.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA