Thursday, 3 Ramadhan 1442 / 15 April 2021

Thursday, 3 Ramadhan 1442 / 15 April 2021

LBB Kenalkan Pendidikan Pasca Bencana di Konferensi Dunia

Kamis 28 Nov 2019 19:09 WIB

Red: Irwan Kelana

Koordinator Pendidikan Pasca Bencana Lembaga Beasiswa Baznas  (LBB), Suli Hendra.

Koordinator Pendidikan Pasca Bencana Lembaga Beasiswa Baznas (LBB), Suli Hendra.

Foto: Dok Baznas
Tim Lembaga Beasiswa Baznas (LBB) tampil di WCEDU 2019, Malaysia.

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR --  Suli Hendra, koordinator Pendidikan Pasca Bencana Lembaga Beasiswa Baznas  (LBB) mengikuti acara 3rd World Conference on Education (WCEDU 2019) yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia. Acara ini adalah ajang pertukaran gagasan, meningkatkan pengetahuan dan debat serta menampilkan tren baru di dunia pendidikan antarpara peneliti, doktor, profesor, dan para profesional dari berbagai negara di seluruh dunia. 

WCEDU 2019 menjadi sebuah wadah dalam pengembangan dalam mengatasi hambatan di dunia pendidikan. Acara ini juga meliputi pemaparan/presentasi hasil makalah/penelitian/paper, diskusi, presentasi poster dan lainnya. Baznas  merupakan satu-satunya peserta dari bidang zakat yang berpartisipasi di konferensi pendidikan tingkat dunia ini. 

Pada Kamis (28/11), Suli bersama LBB mempresentasikan paper berjudul “Emergency School of Baznas:  The Coaching Model Program to Improve the Quality of Schools in Post Disaster Area”.  “Paper tersebut adalah penelitian tentang Program Sekolah Darurat Baznas di daerah pasca bencana yaitu di Lombok dan Sulawesi Tengah (Palu, Sigi dan Donggala) yang tersebar di 17 titik sekolah,” kata Suli Hendra melalui rilis yang diterima Republika.co.id.   

Ia menambahkan, hasil penelitian menunjukkan skor efektivitas atau dampak Program Sekolah Darurat sebesar 94 persen. “Hal ini berarti bahwa Program Sekolah Darurat sangat berdampak terhadap sekolah,” ujarnya. 

photo
Koordinator Pendidikan Pasca Bencana Lembaga Beasiswa Baznas (LBB), Suli Hendra tampil World Conference on Education (WCEDU 2019) yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia.
Ia menyebutkan, kualitas dampak program ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu Kesesuaian Konteks Program (94,5%), Input Program (93%), Proses Implementasi Program (93%), dan Produk/Capaian yang dihasilkan (94,7%). Hal ini berarti bahwa model ini sangat efektif untuk meningkatkan kesiapan dan kualitas sekolah di wilayah paska bencana sehingga dapat direplikasi di wilayah lain. Di samping itu program kesinambungan/sustainability program sangat baik yaitu dengan skor sebesar 95,8%. 

Melalui WCEDU 2019, LBB mengenalkan program pendidikan pasca bencana Baznas  ke forum internasional, berdiskusi dan membahas permasalahan dunia pendidikan di tingkat dunia.  “Sekaligus mengenalkan kepada dunia bahwa zakat mempunyai peran yang sangat penting dalam menyelesaikan permasalahan masyarakat, khususnya di bidang pendidikan,” ujarnya.

Suli mengatakan,  ia dan tim LBB sangat bersyukur dapat membantu para penyintas bencana alam yang terjadi di Indonesia.  “Meringkankan beban mereka adalah suatu kebahagiaan yang tidak bisa dibeli. Dengan berhasilnya program ini,  kami  berharap ke depan program penyelesaian permasalahan pendidikan lainnya di Indonesia  dapat berjalan sukses dan menjadi percontohan internasional.  Aamiin,” paparnya.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA