Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Tren Penderita Menular Seksual di Kalangan Gay Meningkat

Kamis 28 Nov 2019 00:46 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

 Ilustrasi penderita homoseksual.

Ilustrasi penderita homoseksual.

KSMI menyebut penderita infeksi menular seksual banyak diderita LSL atau gay

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual Indonesia (KSMSI) mencatat penderita infeksi menular seksual (IMS) menunjukkan tren meningkat sejak 2016 lalu. Kemudian, dia melanjutkan, ada pergeseran bahwa waria bukan lagi faktor utama melainkan kontak seksual lelaki suka lelaki (LSL) atau gay dan populasinya meningkat drastis lebih banyak dari ibu rumah tangga. 

"IMS mulai meningkat di 2016. Riwayat penyakit menular seksual mulai marak," ujar Ketua Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual Indonesia (KSIMSI) Hanny Nilasari saat temu media mengenai temu media IMS dan HIV/AIDS, di Kementerian Kesehatan Jakarta, Rabu (26/11). Hanny menambahkan, selain LSL penderita yang terinfeksi IMS merupakan kalangan siswa dan mahasiswa usia 16-18 tahun dan menduduki usia kedua. 

Selain itu, pihaknya mencatat pergeseran masyarakat yang pertamakali melakukan hubungan seksual di usia 15 hingga 19 tahun sudah melakukan hubungan seksual pertama kali. "Padahal IMS sangat erat hubungannya dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV)/ Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Satu kali terkena IMS juga berisiko terkena HIV/AIDS," ujarnya. 

Apalagi, ia menambahkan mayoritas seseorang menderita penyakit ini tidak mau memberitahu pasangannya sehingga infeksinya bisa berlanjut. Sebab, dia menjelaskan kasus IMS dan HIV apalagi masih dalam gejala dini tidak terlihat dari fisik. 

"Jadi orang yang terinfeksi IMS sama seperti orang sehat," ujarnya.

Bahkan, dia melanjutkan, kadang-kadang infeksi IMS seperti sifilis yang disebabkan bakteri yang sangat kronis kalau belum sampai menjalar ke otak maka tidak akan bermanifestasi klinis. Kalaupun menampakkan gejala, ia menyebut sifilis hanya di kelamin pasien yang menjadi tempat kontaknya melakukan kontak seksual. 

Kemudian itu akan masuk dalam aliran darah dan bermanifestasi di kulit, itupun bisa sembuh sendiri dan kadang-kadang bisa tidak terdeteksi karena pasien melihat kulitnya hanya merah biasa, bisa hilang sendiri dan dia berusaha mengobatinya sendiri. "Pada saat itu infeksi makin masuk dalam darah dan semakin berat, kemudian baru terdeteksi," ujarnya.

Ia menambahkan sama halnya pada perempuan yang terinfeksi menderita penyakit gonore tidak menunjukkan gejala khas. Ia menyebut penderira hanya mengeluh berupa keputihan biasa seperti perempuan normal.  "Jadi sangat sumir kalau dilihat gejala klinisnya," katanya.

Karena itu ia menegaskan, infeksi ini harus disetop dan dicegah dengan preventif. Pihaknya berkomitmen membantu pemerintah utamanya menurunkan angka kejadian kesakitan IMS dan HIV. 

"Sehingga infeksi HIV/AIDS dapat terkendali," ujarnya.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA