Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

Tuesday, 18 Rajab 1442 / 02 March 2021

Penelitian: Antibiotik Cenderung Tingkatkan Risiko Parkinson

Rabu 27 Nov 2019 15:15 WIB

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Indira Rezkisari

Penggunaan antibiotik (ilustrasi)

Penggunaan antibiotik (ilustrasi)

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Antibiotik tertentu dapat picu Parkinson dengan penundaan 10-15 tahun ke depan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Paparan tinggi terhadap antibiotik oral yang biasa digunakan dikaitkan dengan peningkatan risiko Parkinson. Berdasar penelitian, antibiotik memicu gangguan neurodegeneratif yang mungkin bisa menghilangkan bakteri usus baik.

Para peneliti dari University of Helsinki di Finlandia telah menganalisis data dari 14 ribu pasien penyakit Parkinson. Jumlah itu telah diekstraksi dari pendaftar nasional Finlandia dalam kurun 1998-2014.

Dalam prosesnya, peneliti membandingkan data dengan orang-orang dari 40.697 orang yang tidak terkena dampak yang cocok dengan usia, jenis kelamin dan tempat tinggal, dengan cara yang dikendalikan oleh kasus terkait.

"Hasil kami menunjukkan bahwa beberapa antibiotik yang umum digunakan, diketahui sangat mempengaruhi mikrobiota usus, bahkan bisa menjadi faktor predisposisi," kata pemimpin penelitian, Filip Scheperjans dari Rumah Sakit Universitas Helsinki seperti dilansir Indian Express, Rabu (27/11).

Dia menilai, hubungan antara paparan antibiotik dan penyakit Parkinson, sesuai dengan pandangan umum saat ini. Pasien patologi bisa bermula dari penyakit usus. Lebih lanjut dia menuturkan, hal ini sangat mungkin terjadi karena ada perubahan mikroba di usus pihak terkait sejak beberapa tahun sebelumnya.

Sehingga sambung dia, dengan timbulnya gejala neurodegeneratif akan menimbulkan efek seperti kelambatan, kekakuan otot, dan goncangan ekstremitas.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Movement Disorders itu secara gamblang mengungkapkan bahwa, penggunaan antibiotik tertentu dapat mempengaruhi orang untuk mengidap Parkinson dengan penundaan dari 10 hingga 15 tahun ke depan. Dalam studi, peneliti membuktikannya pada pasien selama tiga periode waktu berbeda, dari satu hingga lima, lima hingga 10 dan, 10 hingga 15 tahun sebelum data terakhir pembelian obat.

Dalam kasus tersebut, para peneliti mulai mengklarifikasikan paparan dari obat berdasarkan jumlah yang dibeli. Para ilmuwan juga memeriksa paparan obat dengan mengklasifikasikan antibiotik sesuai dengan struktur kimia, spektrum antimikroba, dan mekanisme kerjanya.

Hasilnya, mereka beranggapan bahwa perubahan patologis khas penyakit Parkinson sudah bisa diamati hingga 20 tahun sebelum menerima diagnosisnya. Mereka menambahkan bahwa konstipasi, sindrom iritasi usus, dan penyakit radang usus, juga telah dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi untuk terkena Parkinson.

“Penemuan ini juga memiliki implikasi untuk praktik pemberian resep antibiotik di masa depan. Selain masalah resistensi antibiotik, peresepan antimikroba juga harus mempertimbangkan efek jangka panjangnya yang potensial pada mikrobioma usus dan perkembangan penyakit tertentu,” kata Scheperjans.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA