Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Demonstrasi Pro Pemerintah Iran Turun ke Jalan

Selasa 26 Nov 2019 13:41 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Demonstran Iran bentrok di jalan-jalan menyusul kenaikan harga bahan bakar di kota Isfahan, Iran .

Demonstran Iran bentrok di jalan-jalan menyusul kenaikan harga bahan bakar di kota Isfahan, Iran .

Foto: EPA-EFE/Stringer
Ribuan demonstran menuduh AS dan Israel menghasut terjadinya protes antipemerintah

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Ribuan pendukung pemerintah Iran berunjuk rasa di Teheran pada Senin (25/11). Aksi ini menuduh Amerika Serikat (AS) dan Israel menghasut terjadinya protes antipemerintah yang terjadi dalam beberapa waktu ini.

Laporan TV Iran memperlihatkan cuplikan langsung dari kerumunan yang meneriakkan "Kematian bagi Amerika" dan "Kematian bagi Israel". "Saya merekomendasikan mereka (negara-negara asing) melihat pawai hari ini untuk melihat siapa sebenarnya orang-orang di Iran dan apa yang mereka katakan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi dilansir Reuters.

Dalam protes tersebut, Panglima tertinggi Pengawal Revolusi Iran Hossein Salami pun menyampaikan pidato. Dia memperingatkan AS dan sekutu regionalnya untuk tidak mendorong Teheran ke pembalasan besar atas dukungan mereka terhadap perusuh.

Pemerintah menyalahkan perusuh yang terkait dengan orang-orang buangan dan AS, Israel, dan Arab Saudi karena mengobarkan kerusuhan di jalan."Kami telah menunjukkan pengekangan. Tapi kami akan menghancurkan musuh-musuh kami, Amerika, Israel dan Arab Saudi jika mereka melewati garis merah kami," kata Salami kepada para demonstran pro-pemerintah di Lapangan Revolusi Teheran.

Otoritas negara memperingatkan perusuh akan mendapatkan hukuman berat jika kerusuhan berlanjut. Akhir pekan lalu, mereka menyatakan gangguan telah berhenti, meskipun video yang tidak terverifikasi memperlihatkan protes sporadis terus di beberapa tempat.

Washington berpihak pada pengunjuk rasa Iran sementara Prancis dan Jerman telah menyatakan keprihatinan mendalam atas laporan banyak kematian selama protes. Rekaman media sosial telah menunjukkan polisi pada sepeda motor mengemudi ke kerumunan dan menyerang pengunjuk rasa. Video lain menunjukkan polisi menembaki orang-orang dengan amunisi.

Amnesty International mengatakan telah mencatat setidaknya 143 pengunjuk rasa tewas dalam demonstrasi anti-pemerintah, yang dimulai pada 15 November setelah pengumuman kenaikan harga bensin. Protes bahan bakar dengan cepat berubah dengan pengunjuk rasa menyerukan para pemimpin utama untuk mundur. "Kematian bagi diktator. Saatnya Anda mengundurkan diri!," seru mereka.

"Dalam beberapa kasus, pengunjuk rasa ditembak ketika mereka melarikan diri dan jelas tidak menimbulkan ancaman bagi pasukan keamanan. Video lain menunjukkan pasukan keamanan menembak ke arah pengunjuk rasa dari atap gedung-gedung negara termasuk gedung departemen kehakiman," kata lembaga yang berbasis di Inggris dalam sebuah pernyataan.

Iran telah menolak angka kematian yang dilaporkan Amnesty. Pusat Hak Asasi Manusia di Iran, sebuah kelompok advokasi yang berbasis di New York, mengatakan jumlah penangkapan mungkin mendekati empat ribu orang.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA