Wednesday, 2 Ramadhan 1442 / 14 April 2021

Wednesday, 2 Ramadhan 1442 / 14 April 2021

Duque Buka Dialog Pertama dengan Pekerja dan Pebisnis

Selasa 26 Nov 2019 13:33 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Protes anti-pemerintah di Bolivar Square, Bogota, Kolombia, Jumat (22/11) waktu setempat. Pemerintah menetapkan jam malam setelah kondisi negara mencekam akibat aksi massa.

Protes anti-pemerintah di Bolivar Square, Bogota, Kolombia, Jumat (22/11) waktu setempat. Pemerintah menetapkan jam malam setelah kondisi negara mencekam akibat aksi massa.

Foto: AP/Ivan Valencia
Presiden Kolombia Ivan Duque membuka dialog untuk redakan gejolak demonstrasi

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOTA -- Pengunjuk rasa turun ke jalan-jalan Kolombia untuk demonstrasi hari kelima menuntut reformasi ekonomi, kekerasan polisi, dan korupsi, pada Senin (25/11). Untuk meredakan gejolak tersebut, Presiden Kolombia Ivan Duque bertemu dengan serikat pekerja dan pemimpin bisnis.

Duque telah menjanjikan dialog nasional yang berfokus pada isu-isu sosial dan perjuangan melawan korupsi hingga pertengahan Maret. Dikutip dari Reuters, ia mengundang warga untuk mengajukan proposal tentang cara meningkatkan kondisi Kolombia. Pertemuan Duque adalah dengan perwakilan bisnis serta serikat pekerja yang mengorganisir aksi pertama kali.

Taktik yang digunakan oleh polisi anti huru hara untuk membubarkan demonstrasi, termasuk penggunaan gas air mata dan granat suara, telah membuat marah banyak orang. Terlebih lagi setelah pemrotes berusia 18 tahun Dilan Cruz terluka parah pada Sabtu sore.

Protes sebagian besar damai, meskipun ada penjarahan di beberapa daerah dan institusi jam malam diberlakukan di Bogota dan Cali. Bentrokan terkadang terjadi sehingga terjadi kekerasan kepada demonstran.

Pemerintah mengatakan tiga orang meninggal setelah protes dalam insiden yang menurut polisi terlibat penjarahan pada Kamis. Lebih dari 340 petugas polisi sejauh ini terluka.

Agen migrasi Kolombia mengatakan mereka telah mendeportasi 59 warga Venezuela. Mereka diduga terlibat dalam serangkaian kegiatan yang membahayakan ketertiban umum dan keamanan nasional pada Senin.

Badan itu mengaku menghormati hak untuk memprotes namun menolak mengizinkan tindakan beberapa orang untuk mempengaruhi keamanan atau menghasilkan xenophobia. Ada sekitar 1,4 juta warga Venezuela yang tinggal di Kolombia.

Pemerintahan Duque telah terganggu oleh masalah selama hampir 16 bulan menjabat. Dia menghadapi kongres yang agresif, peringkat persetujuan yang rendah, dan upaya legislatif yang gagal.

Protes dimulai dengan pawai 250 ribu orang pekan lalu dan telah ditandai oleh demonstrasi "cacerolazo" atau sebuah protes tradisional Amerika Latin ketika orang-orang menggedor panci dan wajan. Para pengunjuk rasa dari segala usia telah menyatakan diri menentang rencana ekonomi seperti pemotongan upah minimum untuk anak muda. Mereka juga menyoroti kurangnya tindakan pemerintah untuk menghentikan pembunuhan ratusan aktivis HAM.

Protes Kolombia ini bertepatan dengan demonstrasi di tempat lain di Amerika Latin. Dari pawai anti-penghematan di Cile, memicu ketegangan di Ekuador dan Nikaragua.

Telah berlarut lama pula protes atas pemilihan yang penuh dengan kecurangan di Bolivia. Protes tersebut bahkan  membuat Presiden Evo Morales mengundurkan diri.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA