Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Ketahui Perbedaan Mendasar Influenza dan Selesma

Selasa 26 Nov 2019 08:19 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Indira Rezkisari

Influenza dan selesma seringkali sulit dibedakan oleh masyarakat awam.

Influenza dan selesma seringkali sulit dibedakan oleh masyarakat awam.

Foto: Republika.co.id
Influenza dan selesma disebabkan oleh virus yang berbeda.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat mengalami gejala pilek dan bersin-bersin biasa atau selesma, tak sedikit orang yang mengklaim dirinya sedang terkena penyakit influenza. Padahal, selesma dan influenza merupakan dua penyakit yang berebeda.

"Selesma dan influenza disebabkan virus yang berbeda," ungkap Ketua Perhimpunan Alergi-Imunologi Indonesia Prof Dr dr Iris Rengganis SpPD K-AI FINASIM dalam peringatan Hari Flu Sedunia bersama Sanofi Pasteur di Jakarta, Senin (25/11).

Influenza, terang Iris merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus influenza. Secara umum, virus influenza yang menginfeksi manusia dapat terbagi ke dalam dua tipe yaitu virus influenza tipe A dan tipe B.

"Dua-duanya cukup ganas sehingga bisa menyebabkan kematian dan wabah," lanjut Iris.

Salah satu contoh dari penyakit influenza adalah flu burung. Flu burung merupakan penyakit influenza yang disebabkan oleh virus influenza tipe A.

Selesma, lanjut Iris, merupakan keluhan pilek biasa yang dapat disebabkan oleh beraneka macam virus. Akan tetapi virus yang menyebabkan selesma bukanlah virus-virus yang ganas.

Iris mengatakan selesma bisa sembuh dengan sendirinya. Yang terpenting adalah selama masa pemulihan pasien mendapatkan minum, istirahat dan tidur yang cukup. Obat-obatan bisa diberikan untuk mengatasi keluhan yang muncul saat selesma.

"Obat diberikan untuk meringankan gejala," jelas Iris.

Influenza dan selesma seringkali sulit dibedakan oleh masyarakat awam karena memiliki gejala yang mirip. Namun, gejala-gejala pada influenza dan selesma sebenarnya cukup berbeda.

Pada selesma, tutur Iris, gejala seperti demam, sakit kepala serta nyeri dan pegal jarang ditemukan. Sebaliknya, pasien influenza dapat mengalami demam tiba-tiba dan tinggi selama 3-4 hari, sering mengeluhkan sakit kepala, serta cukup sering mengeluhkan nyeri atau pegal yang cukup berat.

Pasien selesma juga jarang merasakan keluhan lemah. Sebaliknya, pasien infuenza cenderung merasa lemah yang cukup berat dan dapat berlangsung hingga satu bulan. Oleh karena itu, pasien selesma jarang membutuhkan istirahat total di tempat tidur sedangkan pasien infuenza kerap membutuhkan istirahat di tempat tidur hingga 5-10 hari.

Iris menambahkan, keluhan pilek, bersin-bersin dan tenggorokan sakit biasa ditemukan pada pasien selesma. Akan tetapi, keluhan-keluhan tersebut jarang ditemukan pada pasien influenza. Di sisi lain, pasien selesma jarang mengalami keluhan batuk sedangkan pasien influenza cukup sering mengeluhkan batuk.

"Batuknya (untuk pasien influenza) bisa menjadi parah," ujar Iris.

Risiko komplikasi dari selesma dan influenza juga cukup berbeda. Risiko komplikasi pada selesma adalah sinus atau infeksi telinga. Pada influenza, risiko komplikasi yang dapat terjadi adalah pneumonia, gagal ginjal hingga mengancam jiwa.

Ketua Indonesia Influenza Foundation (IIF) Prof dr Cissy B Kartasasmita SpA(K) PhD mengatakan keluhan-keluhan selesma biasanya mulai berkurang setelah tiga hari dan membaik setelah lima hari. Akan tetapi pada influenza, keluhan-keluhan tetap dirasakan meski 3-5 hari telah berlalu.

"Kalau tiga hari tidak sembuh sendiri, apalagi makin parah, harus berobat," terang Cissy.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA