Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Kekeringan di Sragen Meluas

Ahad 24 Nov 2019 10:52 WIB

Rep: Binti Sholikah/ Red: Friska Yolanda

Kondisi Waduk Botok yang mengering di Kedawung, Sragen, Jawa Tengah, Selasa (2/7/2019)

Kondisi Waduk Botok yang mengering di Kedawung, Sragen, Jawa Tengah, Selasa (2/7/2019)

Foto: Wihdan Hidayat/Republika
Kemarau pada tahun ini datang lebih panjang menyebabkan wilayah kekeringan meluas.

REPUBLIKA.CO.ID, SRAGEN -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, mencatat jumlah wilayah yang dilanda bencana kekeringan di Sragen meluas pada musim kemarau tahun ini. Data BPBD Sragen dari menyebutkan wilayah kekeringan tahun ini bertambah 64 dukuh.

Pada 2018, kekeringan di Sragen hanya melanda 146 dukuh di tujuh kecamatan. Sedangkan tahun ini bertambah menjadi 210 dukuh. Karenanya, distribusi bantuan air bersih ke daerah terdampak kekeringan yang dilakukan BPBD Sragen meningkat signifikan.

Baca Juga

Kepala Seksi Logistik dan Kedaruratan BPBD Sragen, Giyanto, mengatakan, kekeringan tahun ini terjadi di 36 desa di tujuh kecamatan seperti tahun lalu. Namun jumlah warga dan dukuh yang terdampak kekeringan dan kekurangan air bersih bertambah 64 dukuh.

"Hal ini terjadi karena kemarau tahun ini lumayan panjang, selain itu selama musim kemarau sama sekali tidak ada kiriman hujan," kata Giyanto kepada wartawan, Sabtu (23/11).

Akibatnya, warga terdampak kekeringan hanya mengandalkan bantuan dropping air bersih dari BPBD, PMI, PDAM, CSR dan relawan. "Saat ini kami masih dropping air bersih karena sumber-sumber air belum ada, kemudian air hujan belum merata," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian BPBD Sragen, Sugeng Priyono, menyatakan, sejak Juli 2019 sampai 22 November 2019 total droping air bersih untuk warga terdampak kekeringan mencapai 6.190 tangki, atau setara 39 juta liter. Jumlah tersebut meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan 2018 yang hanya 1.950 tangki.

 "Hujan sampai sekarang belum merata. Kebetulan wilayah utara bengawan belum hujan. Ini masih dropping, sampai kemarin itu sudah 6.190 atau setara 39 juta liter," paparnya. 

Sugeng mengungkapkan, BPBD sangat mengandalkan donatur dan CSR untuk pemenuhan air bersih di daerah kekeringan. Dia merinci data droping air bersih sampai 22 November 2019 yang dilakukan BPBD mencapai 1.320 tangki, PMI 561 tangki, PDAM 1.635 tangki dan CSR sebanyak 2.674 tangki. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah. Hal itu mengingat hujan belum turun merata di Kabupaten Sragen.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA