Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Proyek Film Mouly Surya Dapat Pembiayaan Hubert Bals Fund

Sabtu 23 Nov 2019 15:29 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Christiyaningsih

Sutradara Mouly Surya (tengah) berfoto setelah meraih penghargaan sebagai film cerita terbaik dan Sutradata terbaik dalam acara Festival Film Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Ahad, (9/12) malam. Marlina mendapatkan 10 penghargaan dalam acara tersebut.

Sutradara Mouly Surya (tengah) berfoto setelah meraih penghargaan sebagai film cerita terbaik dan Sutradata terbaik dalam acara Festival Film Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Ahad, (9/12) malam. Marlina mendapatkan 10 penghargaan dalam acara tersebut.

Foto: Republika/Iman Firmansyah
Mouly raih dukungan engembangan skenario untuk proyek film Jalan tak Ada Ujung

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Proyek film sutradara Indonesia Mouly Surya mendapat pembiayaan dari Hubert Bals Fund Voices, Rotterdam, Belanda. Mouly meraih dukungan pengembangan skenario untuk proyek filmnya yang berjudul A Road with No End (Jalan tak Ada Ujung).

"Dukungan dari Hubert Bals Fund (HBF) telah membantu penyelesaian film kedua saya, What They Don't Talk Love When They Talk About Love pada 2013 lalu. Saya senang HBF kembali memberikan dukungan pengembangan proyek saya," kata Mouly lewat pernyataan resminya.

A Road with No End menjadi satu dari 11 proyek film yang mendapatkan pembiayaan setelah seleksi HBF musim gugur 2019 yang diikuti 480 karya. Rencananya, film diproduksi oleh rumah produksi Cinesurya pada 2020 dengan produser Rama Adi dan Fauzan Zidni.

Film keempat Mouly itu diadaptasi dari novel karya Mochtar Lubis, Jalan tak Ada Ujung. Sebelumnya, dia sudah merilis Fiksi (2007), What They Don't Talk Love When They Talk About Love (2013), dan Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017).

Sinema berlatar belakang Jakarta yang dicekam oleh ketegangan perang kota antara September 1946 hingga Juli 1947. Tokoh utamanya adalah guru bernama Isa yang bergabung dengan kelompok pejuang gerilya pascaproklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Hubert Bals Fund membantu pembuatan film karya sutradara dari Asia, Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Eropa Timur. Dukungan tersebut memiliki dua kategori, yaitu HBF Bright Future untuk sutradara baru, dan HBF Voices untuk sutradara berpengalaman.

Dukungan pembiayaan itu bermula pada 1988, diambil dari nama sosok direktur pertama Rotterdam International Film Festival, Hubert ‘Huub’ Bals. Penilaian utama seleksi adalah kualitas artistik serta potensi koproduksi internasional dan distribusi internasional.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA