Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Aisyiyah Bicara Radikalisme dan Cadar

Rabu 20 Nov 2019 02:35 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Ani Nursalikah

Ilustrasi Bercadar

Ilustrasi Bercadar

Foto: Foto : MgRol100
Aisyiyah berupaya berdialog dengan masyarakat untuk meluruskan pandangan.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Aisyiyah sebagai bagian dari Muhammadiyah terus berikhtiar melakukan dakwah dengan terus menguatkan paham Islam berkemajuan untuk membangun Indonesia. Ketua Umum PP Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini mengatakan, Aisyiyah akan terus mengambil peran guna mewujudkan kehidupan yang damai.

Baca Juga

Bahkan, setiap ada isu atau masalah, Aisyiyah berupaya berdialog dengan masyarakat untuk meluruskan pandangan masyarakat dalam menyelesaikan masalah tersebut.

"Aisyiyah harus memiliki peran bagaimana bersama-sama berdialog dan membuat kehidupan ini damai bersama. Ini hal-hal yang harus kita kuatkan bersama," katanya di Kantor PP Aisyiyah beberapa waktu lalu.

Ia mencontohkan seperti isu cadar yang saat ini masih menjadi perdebatan dan perhatian bagi banyak masyarkat. Terkait hal tersebut, Aisyiyah melakukan berbagai dialog baik dengan masyarakat maupun berdialog hingga ke universitas-universitas.

"Bagi kami jelas, busana syar'i Aisyiyah itu sesuai keputusan Majelis Tarjih (dan Tajdid Muhammadiyah). Dan cadar itu bukan menjadi sebuah indikasi bagi paham pandangan Tarjih Muhammadiyah," tambahnya.

Menurutnya, penggunaan cadar merupakan hak bagi setiap warga negara. Walaupun begitu, ia akan terus berikhtiar untuk menyebarkan paham Islam berkemajuan.

"Sehingga tidak ada cara juga untuk kemudian kami melakukan permusuhan. Karena permusuhan itu bukan sesuatu solusi. Tapi akan menjadikan pemahanam bersama dan kita menghargai perbedaan," ujarnya.

Ia juga menyinggung terkait radikalisme dan ekstremisme. Keduanya sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

"Agama apa pun saya meyakini tidak mengajarkan itu dan itu bukan ajaran agama. Setiap kekerasan harus dikutuk dan setiap kekerasan harus mendapatkan sanksi hukum yang tegas," katanya.

Dua hal ini, harus diselesaikan bersama, baik pemerintah maupun lembaga-lembaga lainnya. Da mengatakan di Aisyiyah selalu ditumbuhkan Islam wasathiyah atau Islam tengahan sehingga dapat mendorong dan memetakan cara pandang dalam mencari solusi terhadap persoalan bangsa.

"Kita sendiri melihat ada ketidakadilan, kesenjangan sosial yang begitu rupa yang kita tidak tahu. Apakah kekerasan itu karena faktor tertentu dan itu menjadi tugas kita bersama," ujarnya.

Ia mengatakan, permasalahan ini harus dilakukan dengan berbagai pendekatan. Pemerintah, katanya, harus dapat membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.

"Kami akan terus memperjuangkan bagaimana kekerasan itu harus dieliminasi dan menjadi perhatian bersama. Itu kita lakukan di sekolah, maupun komunitas Aisyiyah di gerakan yang ada di tingkat ranting," jelasnya.

Sehingga, permasalahan tersebut tidak tertumpuk. "Tidak cukup hanya dengan mengutuk itu. Kemudian jangan jadikan persoalan ini bertumpuk tanpa mengikutkan bagaimana masyarakat harus terlibat untuj menyelesaikannya," ujarnya.

Permasalahan tersebut pun menjadi perhatian dan pembahasan dalam Tanwir II Aisyiyah yang baru saja digelar. Bahkan, dihasilkan enam poin rekomendasi yang ditindaklanjuti dengan berpartisipasi dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA