Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Syekh Palestina Harap Indonesia Bawa Isu Negaranya di PBB

Selasa 19 Nov 2019 05:10 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nur Aini

Ketua Ulama Palestina Asia Tenggara, Syekh Ahed Abul Atha menyampaikan keterangan kepada awak media di kantor Spirit of Al-Aqsa, di Tebet, Jakarta Selatan, Senin (18/11), terkait serangan Israel terhadap Palestina.

Ketua Ulama Palestina Asia Tenggara, Syekh Ahed Abul Atha menyampaikan keterangan kepada awak media di kantor Spirit of Al-Aqsa, di Tebet, Jakarta Selatan, Senin (18/11), terkait serangan Israel terhadap Palestina.

Foto: Republika/Umar Mukhtar
Posisi Indonesia sebagai anggota dewan HAM PBB diharapkan bawa isu Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Ulama Palestina Asia Tenggara, Syekh Ahed Abul Atha berharap, Indonesia dapat mengawal hak-hak umat Islam di dunia yang mengalami penindasan, terutama terkait persoalan Palestina dan Israel. Harapan itu disampaikan menyusul posisi Indonesia yang terpilih sebagai anggota dewan HAM PBB periode 2020-2022.

"Saya harap Indonesia dapat berperan yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya, karena Indonesia bangsa yang besar dan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia," kata dia kepada Republika.co.id di kantor Spirit of Al-Aqsa di Jakarta, Senin (18/11).

Baca Juga

Menurut Abul Atha, isu-isu tentang keumatan tentu harus dimainkan. "Isu keumatan dan penderitaan umat Islam di seluruh dunia harus diperjuangkan oleh Indonesia ketika telah sampai pada posisi ini (dewan HAM PBB), khususnya terkait Palestina," tuturnya.

Abul Atha menjelaskan, hubungan Indonesia dan Palestina telah terjalin sejak lama, terutama ketika Indonesia masih dalam berada di bawah penjajahan. "Bagaimana ketika Indonesia berjuang untuk kemerdekaan lalu Palestina bergerak untuk ikut memperjuangkannya," ujarnya.

Begitu pun dalam kondisi sekarang yang menimpa Palestina. "Hendaknya saat ini kita di Indonesia juga memiliki peran yang sama terhadap perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina. Karena itu, harus ada peran yang nyata, dan sesuai dengan potensinya. Bangsa yang besar juga harus memiliki peran yang besar juga," ucapnya.

Rakyat Gaza Palestina sudah bertahun-tahun menderita karena memilih mempertahankan tanah air mereka dan menolak menyerah terhadap Israel. Ancaman teror selalu datang dari Israel. Bahkan aksi damai yang dilakukan aktivis Palestina untuk menuntut kemerdekaan dibalas dengan serangan roket Israel.

Baru-baru ini, korban berjatuhan dari kalangan masyarakat sipil di Gaza setelah Israel melancarkan serangan. Ratusan warga sipil mengalami luka-luka dan 35 orang tewas. Tiga di antaranya perempuan dan delapan anak-anak. Korban luka-luka berjumlah 111 orang, 20 di antaranya perempuan dan 46 anak-anak.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA