Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati

Senin 18 Nov 2019 14:53 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Kesehatan dan Dokter (ilustrasi).

Foto:
Anggaran kesehatan lebih banyak digunakan untuk mengobati daripada pencegahan.

Mengubah Tabiat
Sepanjang nyaris dua puluh tahun, pemerintahan silih berganti. Sejak era Presiden Habibie hingga Presiden Joko Widodo, tabiat pemerintah Indonesia dalam membangun bidang kesehatan masih tetap sama ; upaya promotif dan prefentif hanya menjadi urusan belakang. Padahal persoalan inilah yang menjadi paramater dari baik buruknya suatu derajat kesehatan masyarakat.

Hendrik L Blum, salah seorang pengagas reformasi pelayanan kesehatan, dalam bukunya Kesehatan Perencanaan” dan “Perencanaan untuk Kesehatan (1960) mengatakan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit merupakan kunci dalam memajukan pembangunan kesehatan dari suatu negara. Penelusuran empirik oleh Blum selanjutnya menghasilkan kesimpulan bahwa terdapat 4 faktor penentu derajat kesehatan masyarakat. Keempat faktor tersebut adalah faktor perilaku/gaya hidup (life style), faktor lingkungan (sosial, ekonomi, politik, budaya), faktor pelayanan kesehatan (jenis cakupan dan kualitasnya) dan faktor genetik (keturunan).

Setidaknya sejumlah faktor ini memiliki relevansi dengan apa yang kini terjadi di Indonesia. Dari aspek politik, terlihat dari kebijakan pemerintah yang selalu berorientasi pada penyembuhan pasien sehingga terlihat jelas bahwa peranan dokter, perawat dan bidan sebagai tenaga medis dan paramedis mendominasi.

Dari aspek perilaku, belum ada kesadaran cara pandang masyarakat yang melihat bahwa, masyarakat yang sehat adalah tidak dilihat dari sudut pandang tindakan penyembuhan penyakit melainkan upaya yang berkesinambungan dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dari segi hukum, kita bisa melihat tidak ada cerminan ketegasan di lapangan.

Dengan demikian, maka kondisi mandegnya pembangunan di bidang kesehatan di Indonesia haruslah dibenahi secara mendasar,  jika ingin benar-benar mewujudkan kesehatan yang maju. Pekerjaan untuk memperbaiki dari yang hulu tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang sepele dan  membuang-buang energi. Tidak ada lagi pengabaian -pengabaian yang dilakukan terhadap prinsip-prinsip dasar pengelolaan kesehatan.

Kalau kita cukup serius dan sungguh-sungguh melakukannya , maka secepatnya kita bisa segera keluar dari situasi ketertinggalan ini. Saya selalu percaya Indonesia memiliki potensi besar untuk keluar dari situasi pembangunan kesehatan seperti ini. Keluar dari jebakan kesehatan kuratif. Sama dengan keyakinan saya bahwa indonesia punya peluang besar keluar dari middle income trap, predikat yang selalu meninabobokan kemajuan kita.

TENTANG PENULIS:
Muktamar Umakaapa, Peneliti di Merial Institute, menempuh Magister Ilmu Kebijakan dan Hukum Kesehatan di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA