Wednesday, 30 Zulqaidah 1443 / 29 June 2022

Jadi Dewan PEFC, Dradjad Promosikan Hutan Lestari Indonesia

Kamis 14 Nov 2019 07:46 WIB

Red: Joko Sadewo

Dradjad Wibowo saat voting pemilihan anggota dewan Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC).

Dradjad Wibowo saat voting pemilihan anggota dewan Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC).

Foto: istmewa/doc pribadi
Dunia sekarang mengakui kalau HTI Indonesia dokelola secara lestari.

REPUBLIKA.CO.ID, WURZBURG — Ekonom senior Dradjad Wibowo terpilih secara aklamasi menjadi anggota Dewan atau Board dari Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC). Lembaga ini merupakan skema sertifikasi hutan terbesar di dunia.

Dradjad terpilih dalam pemilihan yang diselenggarakan di  Benteng Marienberg, Würzburg, Jerman, Rabu pagi (13/11).  Dradjad dalam organisasi ini merupakan Ketua Umum Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFCC), yang mewakili Indonesia dalam lembaga PEFC. Adapun PEFC adalah sebuah lembaga yang berbasis di Geneva. Anggotanya terdiri dari 52 negara, ditambah dengan puluhan perusahaan ataupun organisasi dunia.

Saat dihubungi republika.co.id, Dradjad mengatakan, per Maret 2019 terdapat 311 juta hektar hutan yang bersertifikat PEFC. Ini melibatkan lebih dari 750 ribu pemilik hutan. Di sektor hilirnya, terdapat lebih dari 11500 perusahaan yang memakai sertifikat PEFC. Mereka termasuk raksasa dunia seperti Walmart, Tesco, Zara dan sebagainya.

photo
Dradjad Wibowo saat voting pemilihan anggota Dewan PEFC, Rabu (13/11).

Menurut Dradjad, sertifikat IFCC / PEFC terbukti sangat membantu pelaku hutan tanaman industri (HTI) dan olahannya, yaitu kertas dan bubur kertas. Dunia sekarang mengakui kalau HTI Indonesia dikelola secara lestari.

Apalagi, saat puncak kebakaran hutan 2019, dari konsesi HTI seluas 4 juta hektar yang bersertifikat, hanya 2-3% saja yang terbakar.  Itu pun sebagiannya adalah areal yang dipakai pihak lain.

Kata Dradjad, kertas dan bubur kertas Indonesia sempat diboikot pembeli dunia sejak 2008/9. Setelah bersertifikat, ekspor naik 1 milyar dolar AS lebih pada tahun 2017.

“Hutan lestari itu perlu komitmen dan kerja yang luar biasa dari pelaku kehutanan Indonesia. Kita sempat dicap ‘penyakitan’ dan ‘harus dijauhi”. Tapi sekarang pelaku hutan lestari dunia mengakui kita,” kata Dradjad, yang juga politikus PAN itu.

photo
Dradjad Wibowo

Dradjad berharap lebih banyak lagi pelaku sektor hilir Indonesia yang terlibat dalam hutan lestari. Baik dari industri, jasa, perbankan, ritel hingga disainer fesyen dan konsumen.

“Saat ini banyak pihak yang belum terlibat dalam hutan lestari. Padahal, hutan lestari bermanfaat bukan hanya bagi ekspor atau lapangan kerja saja. Tapi juga bagi nama baik Indonesia, dan masa depan anak-cucu. Itu salah satu alasan saya menjadi Dewan PEFC” kata Dradjad.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA