Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Imbauan tentang Salam, Mengapa Netizen Geram?

Rabu 13 Nov 2019 14:32 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Sekretaris Jenderal MUI, Anwar Abbas

Sekretaris Jenderal MUI, Anwar Abbas

Foto: Republika TV/Havid Al Vizki
Imbauan salam dari MUI ditujukan kepada muslim namun malah dihujat netizen

Netizen kembali gempar. Berbagai hujatan mereka lempar. Pro kontra terjadi memang wajar. Asal tak sampai saling gampar. 

Ternyata cuma masalah sebuah imbauan salam. Sementara imbauan itu sebenarnya ditujukan kepada umat Islam. Namun bukan cuma yang non-Islam, yang agamanya Islampun ternyata ikutan geram. 

Dilansir dari katadata.co.id 11/11/19, Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur mengimbau para pejabat tidak menggunakan salam pembuka lintas agama ketika memberi sambutan resmi. Dalam surat imbauan bernomor 110/MUI/JTM/2019, MUI meminta umat Muslim mengucapkan salam sesuai agamanya. 

Imbauan tersebut cukup wajar ditujukan oleh MUI pada umat Islam.  Namun pro kontra terjadi terutama di dunia maya. Komen-komen pedas netizenpun berhamburan menghujani MUI. 

Contoh komentar kontra dari netizen berinisial PS ini dalam akun @PS**** berkicau, “MUI ini sebenarnya makhluk apa? Lembaga pemerintah, LSM, ormas, wakil Tuhan di bumi, atau apa?”. Namun tak sedikit pula yang pro terhadap MUI karena paham bahwa salam adalah sebuah doa dan bagian dari ibadah.

Salam semua agama jamak dipakai sejak zaman pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia kerap mengawali pidatonya dengan perkataan ini, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera bagi kita semua, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, salam kebajikan.”

Shalom atau salam sejahtera ditujukan untuk agama Kristen Protestan dan Katolik. Lalu, Om Swastiastu untuk penganut agama Hindu, artinya semoga Sang Yang Widhi mencurahkan kebaikan dan kebahagiaan. Namo Buddhaya artinya terpujilah Budha. Dan terakhir, salam kebajikan ditujukan bagi penganut Konghucu.

MUI tingkat pusat menyetujui imbauan larangan salam enam agama tersebut. Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas mengatakan kepada CNNIndonesia, ketentuan itu sudah sesuai dengan Alquran dan Alhadis. Salam adalah doa sehingga erat dengan dimensi teologis dan ibadah.

Karena itu, menurut dia, seorang muslim harus berhati-hati dalam berdoa, jangan sampai melanggar ketentuan. “Kalau ada orang Islam dan orang yang beriman kepada Allah berdoa dan meminta pertolongan kepada selain Allah SWT maka murka Tuhan pasti akan menimpa pada mereka,” ucap Anwar.

Lalu jika ada imbauan tentang salam, kenapa Netizen geram? Tuduhan tidak toleranpun disematkan pada MUI dan umat Islam yang pro dengan hal ini. Bahkan tuduhan ini banyak disampaikan oleh kaum muslim itu sendiri. Padahal dalam masalah ini MUI pastilah sudah mengkaji secara mendalam dengan pertimbangan dalil-dalil syara' yang memang Rasulullah tak pernah mengajarkan salam lintas agama.

Seharusnya,  dalam momen maulid Nabi kali ini. Umat Islam memahami secara benar bahwa esensi dari cinta kepada Nabi adalah mengikuti setiap apa yang beliau sampaikan, termasuk dalam hal mengucapkan salam. "Jangan kalian mengawali mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nashrani...." ( HR Muslim)

Geramnya netizen khususnya yang beragama Islam menujukkan bahwa merekalah yang sebenarnya tidak toleran. Mereka tidak menoleransi ajaran Islam yang memang seperti itu adanya. 

Mereka tidak memahami bagaimana ajaran agamanya sendiri dengan benar. Termakan oleh gorengan-gorengan intoleran yang terus dijajakan untuk mendiskreditkan ajaran Islam.

Pengirim: Nusaibah Al Khanza

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA