Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Cara Mudah Praktikkan Gaya Hidup Berkelanjutan

Selasa 12 Nov 2019 18:28 WIB

Rep: MGROL 125/ Red: Reiny Dwinanda

Susana dan aktivitas di Pasar Jajanan Ndeso, di kawasan embung Sebligo, Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Ahad (20/10). Keberadaan pasar ini mampu mendorong kunjungan wisata dan menggerakkan ekonomi warga melalui ragam UKM kuliner.

Susana dan aktivitas di Pasar Jajanan Ndeso, di kawasan embung Sebligo, Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Ahad (20/10). Keberadaan pasar ini mampu mendorong kunjungan wisata dan menggerakkan ekonomi warga melalui ragam UKM kuliner.

Foto: Republika/Bowo Pribadi
Gaya hidup berkelanjutan makin marak dikampanyekan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gaya hidup berkelanjutan (sustainable lifestyle) belakangan marak dikampanyekan di Indonesia. Dengan berkembangnya media sosial serta banyaknya informasi mengenai lingkungan, masyarakat pun mulai mengenal dan peduli dengan gaya hidup tersebut.

Gaya hidup berkelanjutan artinya melakukan aktivitas dengan tetap melindungi bumi. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan masak yang ramah lingkungan, mengurangi penggunaan plastik, serta meminimalisir sisa makanan.

Gaya hidup berkelanjutan sangat penting dilakukan demi terjaganya bumi ini. Bumi memiliki sumber daya alam yang dapat diperbarui dan ada pula yang tidak dapat diperbarui. Dalam hal ini, menurut Denia Isetianti selaku pendiri Cleanomic, sustainable lifestyle adalah cara-cara mengonsumsi dan menggunakan sumber daya alam dengan tidak mengorbankan kebutuhan generasi yang akan datang.

"Kita semua punya kebutuhan, tetapi kita harus ingat bahwa anak cucu kita juga memiliki kebutuhan di masa mendatang. Kita harus mencari cara agar sumber daya alam itu bisa kita kelola dengan baik, supaya generasi mendatang bisa menikmatinya,” jelasnya, ketika mengisi Inspiration Talk, dalam acara Healthy Food Festival, yang diadakan di Gelora Bung Karno, Jakarta, Ahad.

Masyarakat Indonesia berada di lingkungan yang kurang mendukung dalam penerapan Sustainable lifestyle. Namun, dalam  acara yang diadakan oleh lima badan PBB, yaitu FAO, WFP, WHO, UNICEF, dan UNFPA, bersama Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan Pemerintah DKI Jakarta tersebut, Rachel Olsen, seorang ahli gizi, memberikan tip untuk menerapkan gaya hidup berkelanjutan.

Menurut Rachel, sustainable lifestyle bisa dimulai dengan mengonsumsi makanan yang tidak banyak menghasilkan sampah. Membiasakan membawa bekal berupa makanan buatan sendiri dari rumah, menurutnya, merupakan salah satu hal yang bisa dilakukan.

Rachel tidak setiap membawa bekal, namun ketika jajan, ia berusaha agar tidak menggunakan banyak plastik. Andaikan belanja beberapa jenis makanan, ia memasukkannya di satu plastik.

"Nggak usah minta sendok atau garpu, pinjam yang ada di kantor," kata Rachel seraya merekomendasikan untuk membawa tas sendiri ketika belanja.

Lebih lanjut, Denia mengingatkan bahwa Indonesia menghasilkan 178 juta ton sampah setiap tahunnya. Sebanyak 60 persen sampah yang tertumpuk di tempat pembuangan akhir adalah sampah organik.

Menurut Denia, sampah organik ini bisa menambah masalah karena jumlahnya terlalu banyak di TPA dan menyebabkan gas rumah kaca. Efek dari hal tersebut adalah meningkatnya suhu panas di bumi.

Sampah anorganik, seperti plastik, sebenarnya memiliki potensi untuk didaur ulang. Namun, jika bercampur dengan sampah organik, sampah anorganik berisiko tidak dapat didaur ulang.

Denia pun mengajak masyarakat memilah sampah agar sisa makanan atau sampah organik lainnya tak bercampur dengan sampah anorganik. Ia menjelaskan, sampah organik bisa dijadikan pupuk kompos.

"Gampang banget, cuma butuh ember kecil dan sekam bakar," ujarnya.

Untuk membuat kompos, menurut Denia, sampah makanan cukup diletakkan di dalam ember lalu masukkan sekam bakar di atasnya. Setelah itu, letakkan daun-daun kering atau tanah.

"Tutup embernya, tetapi jangan terlalu lama," kata Denia.

Seminggu sekali bahan kompos perlu diaduk. Setelah itu, masukan lagi sekam bakarnya.

"Itu dalam waktu dua pekan sudah jadi pupuk organik yang bisa kalian kasih ke orang yang suka bercocok tanam,” jelasnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA