Saturday, 5 Ramadhan 1442 / 17 April 2021

Saturday, 5 Ramadhan 1442 / 17 April 2021

Politikus PDIP Nilai Reaksi Surya Paloh Terlalu Emosional

Ahad 10 Nov 2019 10:22 WIB

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Andri Saubani

Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh memberikan sambutan saat pembukaan Kongres II Partai NasDem di JIExpo, Jakarta, Jumat (8/11/2019).

Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh memberikan sambutan saat pembukaan Kongres II Partai NasDem di JIExpo, Jakarta, Jumat (8/11/2019).

Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Reaksi Paloh berawal dari sindiran Jokowi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Politikus PDI Perjuangan, Andreas Hugo Pareira menilai, reaksi Ketua Umum Nasdem atas sindirian Presiden Joko Widodo (Jokowi) terlalu emosional. Sindiran itu terkait pertemuan Paloh dengan Presiden PKS Sohibul Iman.

Reaksi Paloh yang dimaksud Andreas terkait ujaran Paloh dalam Kongres Nasdem. Paloh menyinggung partai yang mengaku paling Pancasilais.

"Reaksi SP (Surya Paloh) terhadap sindiran presiden pun menurut saya terlalu emosional, membawa diskursus seolah persoalan “pelukan” ini masuk dalam wilayah ideologis partai-partai pendukung Jokowi-Ma’ruf," kata Andreas dalam keterangannya, Ahad (10/11).

Andreas menyebut, reaksi Paloh ini berawal dari sindiran Jokowi soal kemesraan pelukan antara Paloh dan Sohibul Iman yang mungkin lebih pada ekspresi kedekatan perkawanan antar elite. Kemudian, ditafsirkan berbagai pihak dengan berbagai interpretasi, terutama mengarah ke 2024.

"Faktanya, yang mengomentari rangkulan SP dan SI adalah Jokowi yang dalam kapasitasnya sebagai presiden tentunya berharap banyak, setelah pembentukan kabinet, meskipun tentu tidak memenuhi harapana semua partai pendukung, tetapi pemerintahan tetap solid," kata Andreas.

Andreas mengatakan, meskipun hubungan antar elit partai dinamis, tetapi soliditas koalisi tetap terjaga. Menurut dia, tidak satu partai pun yang mengatakan rangkulan tersebut bermakna ideologis. Lagipula, lanjut dia dinamika antar elit partai saat ini lebih bersifat politik pertemanan.

"Membangun pertemanan sebagai basis kesepahaman kerjasama politik. Sehingga menurut saya, tuduhan SP soal partai Pancasilais pun menjadi terlalu emosional dan sama sekali tidak bermakna ideologis," kata Andreas menegaskan.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dalam pidatonya di pembukaan Kongres II Partai Nasdem sempat menyindir partai yang mengaku paling nasionalis dan pancasilais. Momen itu berawal dari pandangan Surya Paloh mengenai kecurigaan terhadap langkah politik yang dilakukan Partai Nasdem. Menurutnya, hal itu tidak sesuai dengan nilai-nilai di dalam Pancasila.

"Pancasila sebagai pegangan untuk kita, way of life, way of thinking. Tapi kita tidak laksanakan itu. Ngakunya partai yang nasionalis, yang pancasilais. Ya buktikan aja, rakyat membutuhkan pembuktikan partai mana yang paling mengamalkan pancasilais," kata Paloh, di Jiexpo, Kemayoran, Jakarta, Jumat (8/11).

Menurutnya, jika ada partai yang terus menerus menyampaikan propaganda kosong dan mengajak berkelahi satu sama lain, maka ia memastikan bahwa itu bukanlah sikap pancasilais. Ia pun menyerukan kepada seluruh kadernya, jika Nasdem ingin dikenal sebagai partai pancasilais maka Nasdem harus bersikap rendah hati.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA