Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Kadin: Ekonomi Kreatif Bakal Sumbang PDB Rp 1.211 Triliun

Kamis 07 Nov 2019 14:52 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Gita Amanda

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Perkasa Roeslani (kiri).

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Perkasa Roeslani (kiri).

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Subsektor ekonomi kreatif dibagi menjadi enam belas subsektor.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memprediksi kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap total produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2019 ini bakal mencapai Rp 1.211 triliun atau naik dari kontribusi tahun lalu sebesar Rp 1.105 triliun.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri Kreatif, Erik Hidayat, mengatakan dari angka tersebut setidaknya terdapat tiga subsektor yang paling berperan menyumbang pertumbuhan tertinggi. Di antaranya yakni kuliner, fesyen, dan kriya. Adapun secara total, subsektor ekonomi kreatif dibagi menjadi enam belas subsektor.

Selain tiga subsektor di atas, lainnya adalah arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, film animasi dan video, fotograf periklanan, kuliner, musim, pengembang aplikasi dan permainan, penerbitan, periklanan, televisi dan radio, seni pertunjukan, dan seni rupa.

"Industri kreatif saat ini makin penting untuk dikembangkan sebagai untuk mendukung kesejahteraan dan perekonomian nasional," kata Erik dalam Dialog Nasional Ekonomi Kreatif dalam Rapat Kerja Nasional Kamar Dagang dan Industri Indonesia di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (7/11).

Erik berpendapat, kreativitas manusia ke depan akan menjadi daya utama ekonomi. Hal itu juga mendukung fakta bahwa abad ke-21 akan sangat bergantung pada produksi pengetahuan melalui kreativitas dan inovasi. Namun, Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang unggul. Di satu sisi, dunia usaha maupun pemerintah harus bekerja sama menciptakan terobosan ekonomi kreatif.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, mengatakan, saat ini jumlah penduduk usia produktif di Indonesia amat besar. Sumber daya manusia yang ada saat ini harus disiapkan agar bisa menjadi tenaga terampil dalam menjawab tantangan fenomena ekonomi digital yang menjadi bagian dalam ekonomi kreatif.

Hasil riset terbaru dari laporan e-Conomy SEA 2019 oleh Google, Temasek, dan Bain Company mencatat pertumbuhan tren ekonomi digital di ASEAN termasuk Indoensia cukup pesat. Tahun ini, diprediksi internet ekonomi Indonesia bisa mencapai 40 miliar dolar AS.

Hasil riset terbaru itu juga melaporkan bahwa tingkat pertumbuhan Indonesia mencapai 49 persen, atau paling pesat di Asia Tenggara. Pertumbuhan ekonomi digital itu mencakup lima sektor, yakni e-commerce, media daring, transportasi berbasis aplikasi daring, wisata dan perjalanan, serta jasa keuangan digital. 

Indonesia, kata Rosan, harus dapat memetik manfaat optimal dari bonus demografi yang akan diperoleh pada 2035 mendatang. Oleh karena itu, saat ini merupakan waktu yang tepat bagi pemerintah dan dunia usaha mempersiapkan bonus demografi tersebut.

"Kita yakini kontribusi ekonomi kreatif di Indonesia akan terus bertambah. Sekarang sudah banyak start up dan kita punya lima unicorn. Tentu kita harapkan ada kolaborasi dan sinergi dengan pemerintah," ujarnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA