Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Penebang Liar Tembak Mati Suku Penjaga Hutan Amazon

Ahad 03 Nov 2019 15:37 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Joko Sadewo

Ketua suku asli di desa Krimej, Kadjyre Kayapo dari suku Kayapo berfoto dengan latar belakang hutan yang dibuka oleh penebang hutan ilegal di perbatasan tanah pribumi Menkragnotire dan Biological Reserve Serra do Cachimbo, bagian dari hutan Amazon di Altamira, negara bagian Para, Brasil, Sabtu (31/8).

Ketua suku asli di desa Krimej, Kadjyre Kayapo dari suku Kayapo berfoto dengan latar belakang hutan yang dibuka oleh penebang hutan ilegal di perbatasan tanah pribumi Menkragnotire dan Biological Reserve Serra do Cachimbo, bagian dari hutan Amazon di Altamira, negara bagian Para, Brasil, Sabtu (31/8).

Foto: AP Photo/Leo Correa
Penjaga hutan Amazon tewas setelah ditembak kepalanya.

REPUBLIKA.CO.ID, BRASILIA -- Seorang pejuang suku Guajajara yang bertugas menjaga dan melindungi hutan Amazon ditembak mati oleh para penebang liar. Selain itu penembakan menyebabkan anggota suku lainnya terluka.

Para penebang liar telah membunuh Paulo Paulino Guajajara atau kerap dijuluki "Lobo" yang berarti serigala dalam bahasa Portugis. Dia ditembak di kepala saat sedang berburu di wilayah reservasi Arariboia di Negara Bagian Maranhao pada Jumat (1/11) malam waktu setempat.

Para penebang liar turut menembak Laercio yang saat itu mendampingi Lobo. Kendati mengalami luka-luka, dia berhasil melarikan diri dan selamat. Menteri Kehakiman dan Keamanan Publik Brasil Sergio Moro mengatakan polisi federal yang menyelidiki kasus pembunuhan tersebut dan membawanya ke pengadilan.

Organisasi pan-pribumi Brasil, APIB, menilai pemerintahan Presiden Jair Bolsonaro bertanggung jawab atas kematian anggota suku yang bertugas melindungi hutan Amazon. "Meningkatnya kekerasan di wilayah adat adalah akibat langsung dari pidato kebenciannya dan langkah-langkah yang diambil terhadap rakyat kita," kata pemimpin APIB Sonia Guajajara.

Dia menegaskan telah tiba waktunya untuk mengakhiri pembunuhan dan genosida yang dilembagakan itu. Guajajara adalah salah satu kelompok pribumi terbesar di Brasil dengan populasi mencapai sekitar 20 ribu orang.

Pada 2012, Guajajara sepakat membentuk sebuah unit atau satuan tugas yang bertugas melindungi hutan Amazon. Mereka melakukan patroli di wilayah reservasi yang luas. Pada September lalu, Reuters sempat mewawancarai Paulino Guajajara yang berusia 20-an tahun.

Dia mengatakan melindungi hutan dari penyelundup telah menjadi tugas berbahaya. Tapi sukunya tak boleh menyerah pada rasa takut. "Saya kadang-kadang takut, tapi kita harus mengangkat kepala dan bertindak. Kami di sini bertarung," kata Paulino.

Paulino mengungkapkan tugas dia dan anggota suku lainnya adalah melindungi tanah Amazon dan kehidupan di atasnya, termasuk hewan-hewan di dalamnya. "Ada banyak kerusakan alam yang terjadi, pohon-pohon bagus dengan kayu sekeras baja ditebang dan diambil. Kita harus melestarikan kehidupan ini untuk masa depan anak-anak kita," ujarnya.

The National Institute for Space Research (Inpe) menyebut, kebakaran hutan di Amazon telah meningkat 83 persen antara Januari dan Agustus. Persentase tersebut dibandingkan dengan pengamatan yang dilakukan pada periode yang sama  di tahun 2018.

Inpe  mendeteksi 72 ribu kebakaran di Amazon antara Januari dan Agustus. Itu merupakan jumlah tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2013. Inpe menyangsikan kebakaran-kebakaran itu disebabkan atau dipengaruhi iklim. Mereka mencatat jumlah kebakaran tidak sesuai dengan yang biasanya dilaporkan selama musim kemarau. "Tidak ada yang abnormal tentang iklim tahun ini atau curah hujan di wilayah Amazon, yang hanya sedikit di bawah rata-rata," ujar peneliti Inpe Alberto Setzer, dikutip laman //BBC.

Kebakaran itu hampir dipastikan akibat ulah manusia. "Musim kemarau menciptakan kondisi yang menguntungkan untuk penggunaan dan penyebaran api. Tapi menyalakan api adalah pekerjaan manusia, baik sengaja atau tidak disengaja," kata Setzer.

Kepala The World Wide Fund for Nature (WWF) Amazon Program Ricardo Mello mengatakan kebakaran Amazon merupakan konsekuensi dari meningkatnya kegiatan penebangan hutan berskala besar. Kendati demikian, Presiden Brasil Jail Bolsonaro telah menampik data yang disajikan Inpe.

Menurut dia, kebakaran itu disebabkan "musim queimada", yakni ketika para petani menggunakan api untuk membersihkan lahan. Bulan lalu, Bolsonaro menuduh direktur Inpe berbohong tentang skala deforestasi di Amazon dan berusaha mengacaukan pemerintah.

Itu terjadi setelah Inpe menerbitkan data yang menunjukkan peningkatan deforestasi sebesar 88 persen di Amazon pada Juni. Angka itu diperoleh setelah dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu. Direktur Inpe akhirnya dipecat di tengah perselisihan.

Inpe bersikeras bahwa datanya akurat 95 persen. Keandalan lembaga juga telah dipertahankan beberapa lembaga ilmiah, termasuk Brazilian Academy of Sciences.

Dalam satu dekade terakhir, Pemerintah Brasil sebenarnya berhasil mengurangi deforestasi di Amazon dengan tindakan oleh agen-agen federal dan sistem denda. Namun Bolsonaro dan para menterinya mengkritik hukuman tersebut.

Bolsonaro memang sedang menghadapi banyak kritik atas kebijakan lingkungannya. Alih-alih melindungi Amazon sebagai hutan hujan tropis terbesar di dunia, dia justru dianggap mendukung aktivitas penebangan dan deforestasi di sana.

Para peneliti mengatakan, Amazon telah menderita kerugian pada tingkat yang dipercepat sejak Bolsonaro menjabat pada Januari lalu. Dia dinilai bertanggung jawab atas hal itu. Sebab Bolsonaro telah mendorong para penebang dan petani untuk membuka lahan.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA