Saturday, 15 Rajab 1442 / 27 February 2021

Saturday, 15 Rajab 1442 / 27 February 2021

Tiga Instalasi Pengolahan Air di Solo Berhenti Beroperasi

Sabtu 02 Nov 2019 01:52 WIB

Rep: Binti Sholikah/ Red: Esthi Maharani

Karyawan memeriksa proses produksi pengolahan air bersih di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Semanggi, Solo, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019).

Karyawan memeriksa proses produksi pengolahan air bersih di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Semanggi, Solo, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019).

Foto: Antara/Mohammad Ayudha
Penyebabnya yakni sumber air baku dari Sungai Bengawan Solo terkena polutan.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO - Tiga instalasi pengolahan air (IPA) yang dikelola Perumda Air Minum (PDAM) Toya Wening Solo berhenti beroperasi sementara karena sumber air baku dari Sungai Bengawan Solo terkena polutan. Hal itu menyebabkan ribuan pelanggan PDAM terdampak.

Tiga IPA tersebut yakni, IPA Semanggi, IPA Jebres dam IPA Jurug. IPA Semanggi berhenti beroperasi sejak Kamis (31/10), sedangkan IPA Jebres dan IPA Jurug berhenti beroperasi pada Jumat (1/11).

Direktur Teknik PDAM Toya Wening Solo, Tri Atmaja Sukomulyo, mengatakan, tiga IPA tersebut terkena dampak limbah dari Kali Samin yang kemudian masuk ke Sungai Bengawan Solo. Limbah tersebut mulai tergelontor karena ada hujan pertama kali di sisi selatan wilayah Karanganyar. Dia memperkirakan, limbah itu tidak dibuang langsung ke Bengawan Solo tetapi karena ada hujan yang cukup deras meski hanya beberapa jam itu mengerus limbah yang di anak sungai Kali Samin. Kemudian, limbah tersebut masuk ke Bengawan Solo.

"Selama ini mungkin limbah belum dibuang ke sungai, tapi hanya ditaruh di lokasi-lokasi dekat sungai sepert itu atau mungkin dibuang ke anak sungai, karena kering begitu hujan tergerus juga bisa, jadi mengendap. Pengalaman kami ketika musim hujan pertama kali deras itu hampir dua sampai tiga hari seluruh badan sungai pasti berwarna hitam. Karena endapan di dasar sungai belum hanyut semua," terang Tri Atmaja kepada wartawan, Jumat (1/11).

Dia menyebut, perilaku Sungai Bengawan Solo ketika hujan pertama kali orang sering menamakan bladu. Sebenarnya bladu itu bukan karena endapan lumpur sehat tetapi endapan lumpur limbah yang menyebabkan ikan-ikan menjadi mabuk karena begitu pekat limbahnya yang telanjur mengendap tidak terbawa arus sungai. Pada saat bladu tersebut akan banyak orang mencari ikan di sungai.

"Pada saat IPA Semangi tidak bisa mengolah hari Kamis itu hingga malam hari masih bisa mengolah walaupun agak berat tapi hasilnya masih layak secara fisik. Tapi ketika malam hari menjelang subuh sudah tidak bisa. Jadi air yang dari hulu sudah menyatu hingga ke penggal Jurug," imbuhnya.

Menurutnya, PDAM Toya Wening sudah melaporkan kejadian tersebut melalui pesan singkat ke Jasa Tirta, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Tengah. Selanjutnya, pada Senin (4/11) PDAM Solo akan melayangkan surat resmi ke DLH Kabupaten Sukoharjo dan DLH Kabupaten Karanganyar.

Berhentinya operasional tiga IPA tersebut menyebabkan sekitar 16.000 pelanggan PDAM terdampak. Terutama di kelurahan Semanggi, Sangkrah, Pasar Kliwon, Joyontakan, dan sekitarnya. Namun, masih ada beberapa wilayah yang teraliri

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA