Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Assad: Wilayah yang Dikuasai Kurdi Harus Kembali ke Suriah

Jumat 01 Nov 2019 12:39 WIB

Red: Ani Nursalikah

Presiden Suriah, Bashar Al Assad.

Presiden Suriah, Bashar Al Assad.

Foto: Reuters
Assad menyebut kesepakatan dengan Erdogan dan Putin membantu Suriah.

REPUBLIKA.CO.ID, AMMAN -- Presiden Suriah Bashar al-Assad mengatakan sasaran akhir pemerintahnya ialah memulihkan kekuasaan negara atas daerah yang dikuasai Suku Kurdi di bagian timur-laut Suriah setelah penarikan mendadak tentara AS, Kamis (31/10).

Namun, ia menduga itu akan berlangsung secara bertahap. Di dalam satu wawancara televisi, Assad juga mengatakan kesepakatan antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengusir milisi YPG, pimpinan Suku Kurdi, dari zona aman di sepanjang perbatasan adalah langkah positif yang akan membantu Damaskus mencapai sasarannya.

"Itu mungkin tidak mencapai apa-apa. Itu melicinkan jalan bagi pembebasan daerah ini dan dalam waktu dekat saya harap," kata Bashar.

Ia masih memerintah di Damaskus sepanjang perang saudara delapan-tahun dengan dukungan Rusia dan Iran. Milisi Kurdi, YPG yang bersekutu dengan AS, mencapai kesepakatan dengan Damaskus untuk mempertahankan posisi di dekat perbatasan. YPG adalah unsur utama Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang telah mengalahkan ISIS di wilayah tersebut.

Penarikan AS itu melicinkan jalan buat serangan Turki terhadap Suku Kurdi dan membuat mereka merasa ditinggalkan oleh Amerika Serikat serta memaksa mereka mencapai kesepakatan dengan Damaskus untuk membantu melawan pasukan Turki. Ankara memandang YPG sebagai satu organisasi teroris akibat hubungannya dengan gerilyawan Kurdi di Turki Tenggara.

Bashar juga mengatakan keputusan Trump mempertahankan sedikit tentara AS di daerah Suriah yang dikuasai Suku Kurdi memperlihatkan AS adalah kekuatan kolonial yang harus pergi segera setelah rakyat Suriah melawan pendudukan mereka seperti di Irak. Tapi ia mengatakan negaranya tak bisa memiliki kekuasaan sangat besar seperti AS dan berakhirnya kehadiran tentara AS di tanah Suriah tak bisa dicapai dengan cepat.

Bashar mengatakan Trump adalah presiden terbaik Amerika karena transparansinya mengenai keinginan mempertahankan kendali atas ladang minyak utama Suriah di Provisni Deir Az-Zor. Tentara AS telah memulai penggelaran di provinsi tersebut melalui koordinasi dengan SDF untuk meningkatkan keamanan dan melanjutkan perang melawan sisa anggota ISIS.

Banyak diplomat mengatakan keputusan AS mencegah ladang minyak jatuh kembali ke dalam kekuasaan pemerintah akan membuat Damaskus kehilangan jutaan dolar AS. Hal itu juga memastikan sekutu Kurdi menjadi sumber utama penghasilan untuk memerintahkan daerah yang dikuasainya.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA