Sunday, 23 Rajab 1442 / 07 March 2021

Sunday, 23 Rajab 1442 / 07 March 2021

Ilmuwan Dapat Hal Mengejutkan dari Tanah Purba Greenland

Rabu 30 Oct 2019 15:55 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Dwi Murdaningsih

Greenland

Greenland

Foto: greenland.go
Ilmuwan mempelajari iklim kuno Bumi.

REPUBLIKA.CO.ID, BURLINGTON, VERMONT — Dalam salah satu eksperimen paling aneh Perang Dingin, Amerika Serikat (AS) menggali pangkalan militer sepanjang 300 meter yang disebut Camp Century dalam es di barat laut Greenland pada awal 1960an. Penggalian dilakukan dengan daya rudal nuklir di bawah es

Salju lebat sempat menghancurkan pangkalan itu hingga ditinggalkan pada 1966. Namun, Camp Century telah meninggalkan warisan yang sepenuhnya non-militer, yakni inti es sepanjang 1,3 kilometer yang dibor di lokasi tersebut.

Inti tersebut diekstraksi oleh tim yang termasuk ahli glasiologi Chester Langway, menghasilkan rekor suhu masa lalu yang membantu memulai studi tentang iklim kuno bumi. Sekitar sepekan lalu, belasan ilmuwan bertemu di Universitas Vermont (UVM) untuk meneliti inti, yakni lumpur dari permukaan tanah kuno Greenland yang secara kebetulan ditemukan dalam sampel yang diarsipkan

Dilansir di Sciencemag.org, analisis baru terhadap lumpur itu menunjukkan lapisan es Greenland yang besar sebagian besar tidak ada dalam periode hangat selama jutaan tahun terakhir, ketika iklim global sangat mirip dengan kondisi sekarang. Sampel kemungkinan memiliki lebih banyak kisah untuk dibedah lagi.

photo
Sampel tanah Greenland. (JEAN-LOUIS TISON/UNIVERSITÉ LIBRE DE BRUXELLES )
Ahli geofisika UVM Paul Bierman merencanakan analisis lebih lanjut terkait temuan itu. “Ada banyak data baru, 90 persen di antaranya sepertinya dihasilkan dalam 48 jam terakhir,” kata dia.

Inti Camp Century sebagian besar dilupakan pada pertengahan 1990an. Bierman meminta rekannya di Denmark untuk mengambil esnya. Kemudian, ahli glasiologi di Universitas Kopenhagen dan kurator repositori inti es, Jørgen Peder Steffensen mengatakan sebanyak 20 peti dan dua kontainer penuh es tiba di Kopenhagen.

“Kami tahu kami harus bertahan di es karena Anda tidak pernah tahu kapan itu menjadi berharga,” ujar dia.

Saat itu, Denmark sibuk dengan pengeboran, hingga membuat beberapa kotak Langway dibiarkan tidak dibuka dan terlupakan. Steffensen dan Dorthe Dahl-Jensen, ahli glasiologi di Universitas Kopenhagen yang telah memimpin banyak upaya pengeboran besar Eropa di Greenland dan Antartika, menggali 30 stoples kaca yang berisi sedimen inti Camp Century di kedalaman tiga meter.

Bierman dan Schaefer menganalisis jumlah jejak isotop radioaktif yang dibuat ketika sinar kosmik menyerang batuan dan tanah yang terpapar. Ini memberikan petunjuk kapan medan yang tertutup es terakhir kali terekspos. Beberapa tahun yang lalu, keduanya bekerja pada tanah dan batu pulih dari dasar inti es GISP2 dari pusat Greenland, di mana pengeboran selesai pada 1993.

Saat itu, Schaefer menemukan lapisan es yang ada tidak dapat menutupi situs pada waktu lebih dari satu juta bertahun-tahun lalu. Namun, para peneliti tidak langsung mempercayai keberuntungannya, ketika mereka mengunjungi Kopenhagen musim semi ini untuk melihat Camp Jars sebagai "toples kue," sebagaimana Steffensen menyebutnya.

Apa yang mereka pegang bisa menggandakan pengetahuan yang ada. "Akan menghabiskan biaya puluhan juta dolar untuk mendapatkan sampel seperti ini," kata Bierman.

Dia dan rekan-rekannya berangkat untuk menggali setiap informasi. Sekitar 800 gram sampel, mewakili bagian atas dan bawah lapisan berlumpur, tiba di laboratorium Bierman pada pertengahan Juli.

photo
Terumbu karang Great Barrier Reef di Australia memutih dan kehilangan penutupnya akibat badai, perubahan iklim dan ledakan populasi bintang laut berduri
Hasil penelitian yang mengejutkan

Baca Juga

Ahli geokimia di lab Drew Christ mengatakan, ketika botol dibuka, ruangan itu menjadi berbau tajam lebih dari 60 tahun yang lalu, seperti bahan bakar diesel yang dipompa ke dalam lubang agar tetap terbuka.

Christ mengirim sampel yang sudah dicairkan ke laboratorium Eric Steig, seorang glasiologis di Universitas Washington di Seattle yang mengukur rasio isotop oksigen untuk mengetahui suhu di masa lalu. Dia juga mengirim potongan-potongan beku ke Tammy Rittenour, seorang ahli geologi di Universitas Utah State di Logan.

Dia memiliki spesialisasi dalam penanggalan bercahaya, yakni peledakan batu dengan cahaya untuk mengusir elektron yang merekam kapan batu terakhir kali terkena sinar matahari. Hasil awal menunjukkan situs mungkin bebas dari es sekitar 400 ribu tahun yang lalu, selama periode hangat antara zaman es.

Sehari sebelum pertemuan minggu lalu, kelompok Bierman mendapatkan hasil pada isotop sinar kosmik yang mengarah ke kesimpulan yang sama. Kelompoknya mengukur dan membandingkan dua isotop radioaktif, aluminium-26 dan berilium-10. Isotop aluminium terbentuk tujuh kali lebih cepat dari berilium, begitu terputus dari permukaan oleh es, meluruh dua kali lebih cepat. Rasio penurunan antara kedua isotop berfungsi sebagai jam.

Bierman mengatakan ada kemungkinan bagian utara Greenland yang dingin (tempat Century Camp berada) akan menjadi benteng es selama jutaan tahun, mungkin sejak permulaan zaman Pleistosen 2,6 juta tahun lalu, ketika bumi yang secara bertahap mendinginkan berubah menjadi siklus zaman es saat ini. Mereka menyabut es telah menutupi Camp Century selama paling tidak satu juta tahun, sesuai dengan hasil GISP2.

"Bisa jadi kurang, tetapi satu juta tahun adalah yang maksimal. Jadi kamu tidak bisa berdebat stabilitas Pleistosen penuh di kedua situs,” kata Bierman.

Steffensen mengatakan Camp Century semacam tes lakmus. Jika Anda dapat mengatakan itu bebas es, tetapi sebenarnya menunjuk pada es di Greenland semakin berkurang. Permukaan laut akan jauh lebih tinggi daripada hari ini, meskipun iklim satu juta tahun yang lalu mirip dengan iklim yang menghangatkan rumah kaca saat ini.

“Hal ini benar-benar menakutkan,” ujar Schaefer.

Bierman menambahkan bahwa itu juga sangat awal. Bukti dari inti laut dan tempat lain juga menunjukkan sebagian besar lapisan es menghilang 400 ribu tahun yang lalu. Dan, DNA yang ditemukan di bagian bawah beberapa inti es berasal dari tanaman yang tumbuh subur pada suhu musim panas 10 derajad Selsius, walaupun usianya tidak pasti. Namun dalam temuan yang kontradiktif, es di dasar inti es yang berbeda yang disebut GRIP, telah berusia satu juta tahun.

“Data lama dan data baru tampaknya saling mendukung,” kata Dahl-Jensen.

Seorang ahli geologi di UB, Jason Briner memperkirakan lapisan es Greenland lenyap dan direformasi berkali-kali hingga satu juta tahun yang lalu. Sebanyak 28 toples kue yang tersisa dari lumpur Camp Century kemungkinan menyimpan lebih banyak rahasia. Para ilmuwan sedang berburu melalui makrofossil, lilin daun, jenis mineral, gas mulia, dan banyak lagi untuk menjawab pertanyaan tentang seperti apa bentang alam kuno Greenland ketika itu terakhir kali diekspos.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA