Monday, 17 Rajab 1442 / 01 March 2021

Monday, 17 Rajab 1442 / 01 March 2021

HER2-Positif, Kanker Payudara yang Agresif

Rabu 30 Oct 2019 07:49 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Kanker Payudara.

Kanker Payudara.

Foto: The Indian Express
Kanker payudara HER2-Positif merespons positif trastuzumab sebagai terapi target.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling banyak mengenai perempuan Indonesia. Selain itu, kanker payudara juga menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi pada perempuan.

Berdasarkan pemeriksaan imunohistokimia, kanker payudara dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori. Salah satu di antaranya adalah kanker payudara HER2-positif, jenis kanker payudara yang bersifat lebih agresif. Sekitar 20 persen dari total kasus kanker payudara merupakan kanker payudara HER2-positif.

"Kanker payudara HER2 positif merupakan jenis kanker payudara yang positif terhadap Human Epidermal Growth Factor Receptor-2 atau HER2," jelas Menteri Kesehatan Republik Indonesia Dr dr Terawan Agus Putranto SpRad(K) yang diwakili oleh Kasubdit Rumah Sakit Pnedidikan Direktorat Yankes Rujukan Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan dr Tengku Djumala Sari dalam diskusi publik yang diselenggarakan oleh Indonesian Cancer Information & Support Center (CISC), di Jakarta.

HER2, menurut Terawan, merupakan protein yang dapat meningkatkan pertumbuhan sel kanker. Oleh karena itu, kanker payudara HER2-positif bersifat lebih agresif dan memiliki kencenderungan lebih tinggi untuk kambuh kembali.

"Tapi positifnya, kanker payudara HER2-positif bisa merespons bila diberi obat yang spesifik menyasar HER2 (terapi target)," kata spesialis onkologi radiologi dari Siloam Hospitals MRCCC dan Siloam Hospitals TB Simatupang dr Denny Handoyo Kirana.

Salah satu terapi target yang bisa diberikan untuk pasien kanker payudara HER2-positif adalah trastuzumab. Pemberian trastuzumab dapat meningkatkan usia harapan hidup pada pasien kanker payudara HER2-positif. Pasien yang mendapatkan trastuzumab juga memiliki risiko kekambuhan lebih rendah dibandingkan pasien yang tidak mendapatkan trastuzumab.

Selain itu, Denny mengatakan pemberian trastuzumab pada pasien kanker paudara HER2-positif juga dapat menurunkan intensitas pemberian terapi radiasi kepada pasien. Dengan begitu, pasien akan merasa lebih nyaman dan juga dapat menghemat biaya kesehatan.

Saat ini, pemberian trastuzumab yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Sesuai dengan Permenkes Nomor 22 Tahun 2018, obat itu hanya bisa diberikan pada kasus kanker payudara HER2-positif stadium stadium lanjut. Padahal, pemberian trastuzumab akan memberikan hasil yang lebih baik bila diberikan pada stadium awal.

"Indikasi dan pemberian trastuzumab perlu dicermati dengan baik," kata Denny.

Data dari Globocan 2018 mengungkapkan bahwa ada sekitar 22 ribu kematian per tahun akibat kanker payudara di Indonesia. Selain itu, diperkirakan ada 17 per 100 ribu pasien kanker payudara per tahunnya di Indonesia.

Pengobatan atau terapi kanker perlu diberikan sedini mungkin untuk hasil yang lebih baik. Oleh karena itu, pemeriksaan payudara sendiri sangat disarankan untuk mendeteksi dini kanker payudara.

"Pengobatan kanker harus tepat dan akurat, pemberian terapi harus benar-benar efektif dari awal," jelas Denny.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA