Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

Netanyahu Tuding Iran Ingin Serang Israel

Selasa 29 Oct 2019 16:22 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara di pembukaan tahun ajaran baru di permukiman Yahudi di Tepi Barat, Elkana, Ahad (1/9). Ia berjanji memberi kedaulatan di permukiman Tepi Barat.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara di pembukaan tahun ajaran baru di permukiman Yahudi di Tepi Barat, Elkana, Ahad (1/9). Ia berjanji memberi kedaulatan di permukiman Tepi Barat.

Foto: Amir Cohen/Pool Photo via AP
Iran dituduh ingin meluncurkan rudal dari Yaman ke Israel.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuding Iran hendak menyerang negaranya. Menurut dia, Teheran sedang mencari cara untuk meluncurkan rudal presisi ke Israel dari Yaman.

“Iran ingin mengembangkan rudal yang dipandu dengan presisi yang dapat mencapai target apa pun di Israel dalam jarak lima hingga sepuluh meter,” ujar Netanyahu dalam sebuah pidato di Yerusalem pada Senin (28/10).

Baca Juga

Netanyahu mengungkapkan Iran ingin memanfaatkan beberapa negara sebagai tempat untuk melancarkan serangan ke Israel. “Iran berharap menggunakan Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman sebagai pangkalan untuk menyerang Israel dengan rudal statistik dan rudal yang dipandu dengan presisi. Itu bahaya besar, sangat besar,” ucapnya.

Dia juga mencurigai Iran sedang berupaya mereparasi gudang senjata roket milik kelompok Hizbullah di Lebanon dengan sistem panduan presisi. “Mereka juga berusaha mengembangkan itu dan sudah mulai menempatkannya di Yaman, dengan tujuan menjangkau Israel dari sana juga,” katanya.

Mengingat ancaman tersebut, Netanyahu telah memperingatkan pemimpin Blue & White Party Benny Gantz untuk membentuk pemerintah koalisi yang luas. “Kita membutuhkan pemerintah persatuan nasional,” ujar Netanyahu.

Presiden Israel Reuven Rivlin memang telah memberi mandat kepada Gantz untuk membentuk pemerintahan baru Israel. Tugas itu diserahkan setelah Netanyahu mengaku gagal melakukan pekerjaan tersebut.

Dalam empat tahun mendatang, Israel kemungkinan akan dipimpin secara bergantian oleh Netanyahu dan Gantz. Hal itu terjadi karena pada pemilu September lalu, tak ada partai politik Israel yang memperoleh 61 kursi mayoritas di parlemen (Knesset).

Kursi terbanyak diperoleh Blue & White Party, yakni 33 kursi. Sementara Likud Party pimpinan Netanyahu memperoleh 32 kursi. Hasil itu membuat Netanyahu dan Gantz harus berkompromi untuk membentuk pemerintahan.

Jika Gantz gagal mengemban tugasnya, Israel terpaksa harus menggelar pemilu untuk ketiga kalinya tahun ini. Sebab sebelum September lalu, Israel sebenarnya telah menghelat pemilu pada April. Likud Party keluar sebagai pemenangnya.

Namun, Netanyahu gagal membentuk pemerintahan. Dia akhirnya memutuskan membubarkan parlemen agar posisi perdana menteri tidak diambil alih oposisi. Konsekuensi langkah tersebut adalah Israel harus menggelar pemilu ulang. 

 

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA