Tuesday, 1 Ramadhan 1442 / 13 April 2021

Tuesday, 1 Ramadhan 1442 / 13 April 2021

Susunan Menteri Ekonomi Dinilai Belum Ideal

Ahad 27 Oct 2019 07:27 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nur Aini

Sejumlah menteri kabinet indonesia maju mengikuti sidang kabinet paripurna di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (24/10/2019).

Sejumlah menteri kabinet indonesia maju mengikuti sidang kabinet paripurna di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (24/10/2019).

Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Posisi strategis kementerian bidang ekonomi masih diisi oleh orang dari partai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho menyebut susunan menteri tim ekonomi belum ideal. Dia menyayangkan terpilihnya kalangan partai di posisi strategis seperti Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin). 

Kedua menteri di kementerian tersebut memang berasal dari kalangan partai yakni Mendag Agus Suparmanto dari PKB dan Menperin Agus Gumiwang yang merupakan kader Golkar. Kalaupun posisi tersebut perlu diisi dari kalangan partai, Presiden dinilai perlu memilih dengan latar belakang dan keahlian yang mumpuni. 

"Kita masih melihat posisi strategis penopang industri kita seperti Kemendag dan Kemenperin masih diisi dari partai. Idealnya posisi ini berasal dari profesional," kata Andry dalam diskusi online Indef dengan media, Sabtu (26/10). 

Baca Juga

Di tengah kondisi perang dagang antara China dengan Amerika Serikat yang masih berlangsung, pelemahan ekonomi China juga berdampak pada industri di dalam negeri. Akibat perang dagang, pertumbuhan ekonomi China pada kuartal III menjadi yang terendah selama 27 tahun. Perdagangan China sudah mengarah pada perlambatan. Pada September, pertumbuhan ekspor China menurun 3,2 persen, sementara impornya menurun hingga 8,5 persen dibanding tahun lalu. 

Melambatnya perekonomian China, menurut dia bisa menjadi pertanda yang tidak cukup menggembirakan bagi perdagangan Indonesia. Alasannya, mitra dagang terbesar Indonesia adalah China dengan total perdagangan mencapai 45,9 miliar dolar AS sepanjang Januari hingga Agustus tahun ini. China juga menjadi negara tujuan ekspor terbesar asal Indonesia mencapai 17,2 miliar dolar AS. Komoditas yang diekspor pun juga memiliki kontribusi terbesar terhadap ekspor secara keseluruhan, sebut saja CPO, batubara, besi dan baja, bijih tembaga dan produk dari kayu.

"Beberapa komoditas tersebut rentan mengalami pelemahan dalam lima tahun ini akibat melemahnya permintaan dari China," ungkapnya.

Ekonom Senior Indef Aviliani menilai, sektor perindustrian saat ini kurang fokus pada bidangnya dan hanya fokus terhadap masuknya investasi semata. Di sisi lain dia melihat Kemenperin saat ini hanya menjadi pemadam kebakaran yang mana bila terjadi sesuatu yang genting baru mengeluarkan kebijakan. 

"Menperin baru perlu melakukan arsitektur industri baru, karena era liberalisasi telah berubah menjadi era proteksionisme yang menyebabkan model pengembangan industri juga berubah ke arah global value chain," ujarnya. 

Di sisi lain Kemendag yang diharapkan mampu menjaga impor bahan pangan dapat berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian lebih baik. Lalu berkoordinasi dengan Kemenperin untuk produk-produk yang mampu diproduksi di dalam negeri guna menjaga neraca perdagangan. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA