Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Bung Kusnaeni Tawarkan Konsep BPJS untuk Bangun PSSI

Jumat 25 Oct 2019 20:58 WIB

Rep: Fitriyanto/ Red: Israr Itah

Mohamad Kusnaeni (kiri).

Mohamad Kusnaeni (kiri).

Foto: DOKPRI
Ia menawarkan konsep BPJS yang diyakini bisa membawa PSSI ke kondisi lebih sehat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah satu alasan komentator sepak bola Mohamad Kusnaeni maju dalam pemilihan Komite Eksekutif (Exco) karena melihat PSSI saat ini tidak baik-baik saja. Ia menawarkan konsep BPJS yang diyakini bisa membawa PSSI ke kondisi lebih sehat.

"Bagi organisasi besar seperti PSSI, sehat di sini maknanya luas," kata Kusnaeni yang maju sebagai kandidat wakil ketua umum dan Anggota Exco PSSI. "Tidak cukup sehat secara finansial, tapi juga harus sehat secara tata kelola dan juga prestasinya."

Baca Juga

Saat ini, kondisi sehat tersebut dinilainya belum didapatkan oleh PSSI. Dari segi prestasi belum terlihat, sementara tata kelolanya dinilai agak berantakan. Secara finansial, kata Bung Kus, PSSI ternyata masih punya utang lumayan besar. Untuk itulah Kusnaeni menyebut pentingnya konsep BPJS yang dia tawarkan. 

"Huruf B itu maknanya benahi kompetisi. Tidak hanya fokus ke kompetisi profesional, tapi juga kompetisi amatir dan usia muda, apalagi kita mau jadi tuan rumah Piala Dunia U-21 tahun 2021," kata dia.

Kompetisi amatir dan usia muda yang bagus bisa jadi penyangga yang kuat bagi liga profesional. Ini sekaligus menghasilkan banyak bibit pemain bagus sehingga nantinya Indonesia bisa bersaing di level dunia.

Khusus untuk membenahi kompetisi profesional, Kusnaeni menyebut butuh perhatian khusus karena masalahnya kompleks. Ia mengakui, banyak yang harus dikerjakan untuk membenahi tata kelola kompetisi profesional.

“Atmosfernya sudah bagus tapi butuh sentuhan khusus agar aspek-aspek negatifnya bisa dikurangi dan liga kita kelak lebih punya nilai ekonomis,” kata pria yang juga komentator sepak bola di tv.

Lalu, huruf P maknanya perkuat organisasi. Ia mengatakan, usia PSSI bahkan lebih tua dibanding republik ini. Sudah sepantasnya PSSI menjadi organisasi yang kuat dan modern. Minimal yang terunggul dibanding induk cabor lainnya,” katanya, prihatin. 

“Sayangnya, saat ini rumah PSSI saja kita tidak punya. Terus berpindah-pindah,” katanya, prihatin. “Kita juga belum punya fasilitas pemusatan latihan yang memadai untuk tim nasional semua kelompok umur. Ini hanya bagian kecil dari persoalan organisasi. Banyak aspek lain yang butuh penguatan agar PSSI menjadi organisasi yang unggul dan modern.” 

Selanjutnya, J dimaknai Bung Kusnaeni sebagai jalin kemitraan dengan semua stakeholder, terutama Pemerintah. Sepak bola tak mungkin diurus sendiri oleh PSSI. Jadi, kata dia, PSSI harus melibatkan semua pihak, yakni swasta, BUMN, masyarakat, keluarga, hingga mantan pemain.

"Paling penting, jangan pernah lagi punya pikiran PSSI bisa maju tanpa dukungan pemerintah,” ," kata Kusnaeni yang juga pengurus Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) di bawah Kemenpora. 

PSSI, menurutnya, harus merangkul pemerintah agar program-programnya mendapat dukungan dan bantuan. Khususnya untuk peningkatan infrastruktur dan pembinaan usia muda.

Paling akhir, S dimaknai sebagai sistem yang jadi panglima, bukan figurnya. "Bangun sistem organisasi yang kuat, jangan bertumpu pada figur alias one man show. PSSI ini organisasi besar, tidak boleh hanya bertumpu pada orang per orang," pengamat olahraga senior itu menjelaskan. 

Menurut Kusnaeni, lemahnya sistem inilah yang selama ini memberi peluang bagi penyalahgunaan. Salah satunya berupa match fixing dalam kompetisi. “Sistem harus berjalan dan jadi pedoman organisasi PSSI. Jangan terlalu banyak pembiaran dan kompromi sehingga akhirnya organisasi jadi lumpuh, tidak efektif,” katanya mengakhiri. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA