Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Mengenal Al-Muwaththa’, Kitab Hadis Sahih Imam Malik

Senin 14 Oct 2019 12:00 WIB

Rep: Islam Digest Republika/ Red: Agung Sasongko

Hadist (ilustrasi).

Hadist (ilustrasi).

Foto: Blogspot.com
Imam Malik merampungkan penulisan kitab ini selama kurun waktu sekitar 40 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Hadis adalah perkataan, perbuatan, ketetapan, dan sifat yang berasal dari Rasulullah SAW. Kedudukan hadis dalam Islam adalah sebagai sumber hukum kedua yang terpenting setelah Alquran. Keterkaitan antara keduanya sangat erat dan tak bisa dipisahkan. Hadis menjelaskan hukum dan persoalan yang belum dijabarkan dalam Alquran secara jelas.

Dalam beberapa persoalan, hadis menghadirkan hukum tersendiri yang belum disebutkan dalam Alquran. Seperti hukum mengonsumsi hewan Jalalah atau binatang yang makan sehari-harinya adalah benda najis. Karena itulah, kedudukan hadis adalah sebagai penjelas dari Alquran.

Akan tetapi, seiring dengan pergulatan pemikiran akibat dari perluasan wilayah yang berimbas pada munculnya keberagaman pendapat, maka perbedaan pun tak dapat dihindari.

Setiap daerah memiliki corak dan metode pengambilan hukum masing-masing. Di daerah Hijaz termasuk Makkah dan Madinah misalnya, terkenal dengan corak periwayatan hadis yang sangat kental, sedangkan umat Islam yang berada di pusat pemerintahan, seperti Irak kala itu, lebih dekat dengan metode rasional.

Perbedaan tersebut akibatnya memicu pemahaman yang beragam tentang interpretasi teks, baik Alquran ataupun hadis. Kendati demikian, riuhnya perbedaan ini tak mengurangi minat para pengkaji hadis untuk menghasilkan pemikiran brilian yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi saat itu. Setidaknya, upaya tersebut berhasil dibuktikan oleh Abdullah bin Malik bin Anas bin Malik Al-Ashbahi (179 H).

Kehadiran tokoh asli Madinah Al-Munawwarah ini memengaruhi metode pemikiran keagamaan. Dalam fikih misalnya, corak pemikirannya senantiasa berdasarkan teks hadis yang menjadi karakternya. Setidaknya, buah pemikiran di bidang hadis-fikih tersebut tertuang secara apik dalam karya monumentalnya yang berjudul Al-Muwaththa’.

Inspirasi 

Adapun inspirasi yang mendasari Imam Malik menulis untuk Al-Muwaththa’ adalah permintaan Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur. Tepatnya, ketika sang khalifah bertemu dengan Imam Malik dalam suatu musim haji. Setelah mengikuti majelis ilmu yang dipimpin langsung oleh Imam Malik, Abu Ja’far merasa takjub atas penguasaan hadis dan fikih pemuka Madinah tersebut. Lantas, terbesit di benak Khalifah agar Imam Malik berkenan membuat kumpulan hadis sahih yang membahas tentang hukum fikih dalam berbagai aspek, mulai dari ibadah, muamalah, munakahat (pernikahan), jinayat (pidana), dan lainnya.

Namun, Abu Ja’far memberikan standardisasi dan kriteria terpenting guna dijadikan acuan penulisan kitab nantinya. Standardisasi tersebut berkaitan dengan posisi perspektif fikih yang moderat. Yakni, tidak seperti Abdullah bin Umar yang condong kaku ataupun Abdullah bin Abbas yang terlampau menggampangkan maupun coraknya terlalu asing ala fikih Abdullah bin Mas’ud.

Dengan standardisasi itu, kitab tersebut bisa dijadikan sebagai acuan umum bagi umat Islam. Dan latar belakang inilah yang menjadi dasar penamaan kitab tersebut dengan nama Al-Muwaththa’ yang berarti rujukan.

Kendati permintaan tersebut datang dari seorang khalifah, Imam Malik tak langsung mengabulkannya. Sebab, dalam pandangan Imam Malik, masing-masing kelompok Muslim memiliki metode ijtihad dan rujukan tersendiri sehingga tak etis jika kemudian membatasi dan menyatukan pendapat-pendapat menjadi satu.

Meski demikian, pada akhirnya Imam Malik menerima masukan sang Khalifah dan lalu mengarang kitab yang dimaksud. Imam Malik merampungkan penulisan kitab ini selama kurun waktu sekitar 40 tahun. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA