Friday, 21 Rajab 1442 / 05 March 2021

Friday, 21 Rajab 1442 / 05 March 2021

Hong Kong Belum Kondusif, Investor Beralih ke Asia Tenggara

Ahad 13 Oct 2019 13:45 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolanda

Peserta aksi melakukan long march di Hong Kong, Sabtu (12/10).

Peserta aksi melakukan long march di Hong Kong, Sabtu (12/10).

Foto: AP Photo/Vincent Yu
Pengembang Hong Kong dipaksa menawarkan diskon untuk memotong biaya sewa.

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Investor Hong Kong dan Cina memindahkan investasinya ke properti Asia Tenggara. Aliran dana mereka mengalir dari negara mereka sendiri ke apartemen mewah Singapura hingga kondominium pinggir laut Malaysia. Perpindahan arus didasari atas demonstrasi yang semakin keras dan perang dagang antara Cina dengan Amerika Serikat (AS) yang tak kunjung usai.

Dilansir AFP, Ahad (13/10), jutaan orang pro demokrasi telah turun ke jalanan Hong Kong selama empat bulan. Kondisi ini memukul industri pariwisata hingga memaksa para pelaku usaha memberhentikan staf. Di sisi lain, sektor properti merasakan dampaknya yang menyakitkan.

Saham properti di salah satu pengembang termahal di dunia tercatat telah anjlok sejak Juni. Para pengembang dipaksa menawarkan diskon-diskon pada proyek baru dan memotong biaya sewa perkantoran. Kondisi ini yang menuntut investor beralih ke kawasan yang dinilai lebih aman, Asia Tenggara.

Salah seorang pengusaha Hong Kong yang mengikuti arus perpindahan adalah Peter Ng. Ia membeli sebuah kondominium di Pulau Penang, Malaysia, setelah protes mengenai demokrasi meluap.

"Ketidakstabilan itu menjadi katalis bagi saya," ujar pemain saham dan investor properti berusia 48 tahun tersebut.

Apabila kerusuhan terus berlanjut, Ng cemas, ekonomi Hong Kong akan terdampak negatif dalam jangka panjang. Proyeksi ini yang akan selalu dilihat investor. Tepatnya, stabilitas politik.

Pengusaha Hong Kong lainnya, Derek Lee, mengatakan bahwa ada pihak lain yang mempertimbangkan berinvestasi di properti Asia Tenggara karena kerusuhan. Ia sendiri memiliki apartemen di Penang. 

"Orang-orang pasti berpikir bagaimana membuat kehidupan yang lebih stabil," ucap lelaki berusia 55 tahun itu.

Selain kondisi yang lebih stabil, sejumlah negara di Asia Tenggara tercatat memiliki harga yang jauh lebih rendah dibandingkan Hong Kong. Salah satunya, Malaysia. Property Guru, situs real estate Asia Tenggara asal Malaysia, mengalami peningkatan kunjungan 35 persen dari Hong Kong. Data ini disampaikan langsung oleh CEO Hari Krishnan.

Pasar properti Hong Kong merupakan salah satu pasar yang sulit terjangkau di dunia. Harganya dikenal setinggi langit. Hal ini dipicu oleh sebagian penduduk Cina mengambil investasi secara masif di Hong Kong.

Tapi, kini, orang Cina, yang selama ini memandang properti di Hong Kong sebagai investasi aman, justru banyak beralih ke Singapura. Menurut pengamat, peralihan ini disebabkan kombinasi antara protes di Hong Kong yang menciptakan ketidakstabilan politik dan perang dagang AS-Cina.

Direktur Eksekutif Penelitian di Savills, Alan Cheong, mengatakan, protes di Hong Kong membuat beberapa masyarakat di sana berpikir lebih dalam untuk berinvestasi di real estate Hong Kong. "Sehingga mereka membawa investasi itu ke Singapura," ujarnya.

Selain kondisi Hong Kong yang tidak kondusif, Cheong mencatat alasan lain perpindahan investasi ke Singapura. Ia menyebutkan, Singapura merupakan negara terdekat secara budaya dengan Cina, selain Hong Kong. Kondisi ini yang membuat para investor Cina menjadi lebih nyaman untuk menaruh modal di Singapura.

Pernyataan Cheong sejalan dengan data dari konsultan Singapura, OrangeTee & Tie. Mereka mencatat lompatan penjualan apartemen mewah pada tahun ini. Sebagian besar di antaranya dibeli oleh orang Cina daratan.

Tapi, di tengah kondisi saat ini, para analis tetap melihat ada sedikit harapan dari pasar properti Hong Kong. Kepala properti Hong Kong dan Cina di CGS-CIMB Securities International Raymond Cheng melihat ada perbaikan pada harga saham properti Hong Kong. "Nilainya terkoreksi sekitar 15 hingga 25 persen sejak Juli," katanya.

Penjualan residensial masih bertahan, namun hanya ketika pengembang menawarkan diskon. Di sisi lain, Cheng menambahkan, tingkat sewa kantor diperkirakan turun sebanyak lima persen. Penyewaan toko juga sangat terpengaruh.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA