Thursday, 3 Ramadhan 1442 / 15 April 2021

Thursday, 3 Ramadhan 1442 / 15 April 2021

Joker, Skizofrenia dan Urgensi Kepekaan Publik

Kamis 10 Oct 2019 13:33 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Film Joker.

Adegan dalam film Joker (Ilustrasi)

Foto: VOA/Warner Bros
Di kehidupan nyata, penderita skizofrenia bisa lebih kejam dari Joker.

Puskesmas, Masyarakat, dan Keluarga
Lembaga kesehatan yang paling merepresentasikan kehadiran negara adalah pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) yang ada di tingkat desa/kelurahan dan kecamatan. Dalam kasus skizofrenia, sebagai unit kesehatan paling dekat dengan masyarakat, puskesmas harus mampu dijangkau, bahkan merangkul langsung warganya yang sedang menderita.

Dokter, bidan, dan pelayan kesehatan lainnya, jika diperlukan, harus jemput bola ke rumah-rumah warga, serta mendeteksi potensi penderita skizofrenia yang mungkin saja menimbulkan gangguan di tengah-tengah masyarakat. Pelayanan model demikianlah yang sejatinya menjadi ukuran nyata kehadiran negara di tengah-tengah rakyatnya.

Selain itu, kepekaan masyarakat dalam ikut memulihkan penderita menjadi faktor yang jauh lebih penting dibanding kehadiran tenaga medis puskesmas. Dokter dan bidan memiliki keterbatasan tenaga dan waktu dibanding tetangga dan masyarakat sekitar kita.

Kepekaan ini tentu saja butuh diasah, dilatih, dan dimunculkan di tengah-tengah masyarakat kita, lebih-lebih di wilayah masyarakat yang individualistis, pragmatis, dan hedonis. Ingatlah bahwa lingkungan masyarakat kita layaknya satu tubuh. Jika ada yang sakit, efeknya akan mengganggu dan dirasakan oleh kelompok warga lainnya. Kesadaran ini perlu terus-menerus dipupuk intensif melalui aneka macam aktivitas sosial-kemasyarakatan maupun keagamaan.

Paling penting lagi adalah faktor keterlibatan, perhatian, dan kasih sayang keluarga penderita. Ini mutlak menjadi syarat utama cepat pulihnya penderita skizofrenia. Jika keluarga mendukung dan tidak kenal lelah memberikan atensi tenaga, fisik, moral, spiritual, dan kekuatan mental, maka proses pemulihan akan berlangsung lebih cepat. Sebab, tidak jarang keluarga penderita yang malah mengucilkan, merasa malu, tertekan, tidak mengakui, bahkan melakukan pembiaran. Ini tidak boleh terjadi.

Skizofrenia bisa dialami siapa saja, apalagi di tengah-tengah tingginya tingkat stress kehidupan masyarakat akibat kesulitan dan himpitan beragam faktor; ekonomi, politik, hukum, sosial, dan seterusnya. Sudah seharusnya kita sebagai bangsa mulai memperkuat dan merekatkan kembali kohesi sosial sebagai bangsa yang beradab, bermoral, saling tolong menolong, gotong-royong, tepo-seliro, tenggang rasa, bahu-membahu, dan hidup rukun saling menghormati dan membantu. Itulah jati diri kita sebagai bangsa majemuk yang kaya akan keluhuran perilaku dan budi pekerti.

Sebagai bagian dari ikatan keluarga besar bernama bangsa Indonesia, jangan merasa sudah aman karena saat ini semua anggota keluarga kita sehat-sehat saja dan jauh dari penyakit. Kita hidup di lingkungan besar yang penuh dinamika, gesekan sosial, dan keruwetan yang memungkinkan siapa pun terpapar gangguan mental seperti penderita skizofrenia.

Lingkungan yang acuh, individualistik, oportunistik, dan tidak ramah sejatinya adalah bencana bagi kemunculan potensi penderita skizofrenia.
Mari bersama-sama sadar dan peduli terhadap nasib penderita skizofrenia, dampingi mereka dan pastikan di jalur pemulihan yang benar sekalipun sudah keluar dari rawat inap, jangan mengiyakan imajinasi pasien skizofrenia, dan bantulah mereka hidup mandiri.  Selamat Hari Kesehatan Jiwa Sedunia.

* Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU, Anggota DPR RI FPKB 2019-2024

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA