Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

INCRE, Pakar Malaysia: Iptek dan Agama Kerap tak Seimbang

Senin 07 Oct 2019 16:48 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Serpong tengah belajar. (ilustrasi)

Siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Serpong tengah belajar. (ilustrasi)

Foto: Republika/Agung Supri
Iptek dan agama seharusnya berjalan beriringan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Konferensi Internasional tentang keagamaan dan pendidikan (The 1st Internasional Conference on Relegion and Education/INCRE) akan digelar untuk pertama kalinya di Indonesia pada Selasa (8/10) besok di Bintaro, Tangerang. 

Kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari ini dinilai penting untuk menyeimbangkan pemikiran keagamaan dan ilmu pengetahuan.

Baca Juga

Salah satu narasumber dari Universitas Teknologi Mara Malaysia, Norhaslinda Kamaruddin, mengatakan selama ini agama dan ilmu pengetahuan kerap tidak berjalan beriringan. 

Padahal, kata dia, antara urusan duniawi dan ukhrawi itu perlu diselarasakan, sehingga bisa melahirkan solusi bagi dunia Internasional.

“Bagi saya sangat penting sebab untuk mendapatkan kehidupan hakiki semuanya perlu diseimbangkan antara dunia dan juga pengetahuan agama,” ujar Norhaslinda saat dihubungi Republika.co.id, Senin (7/10).

Dosen Fakultas Komputer dan Ilmu Matematika ini yakin para peserta konferensi Internasional tersebut nantinya akan dapat melahirkan berbagai macam solusi untuk menghadapi tantangan dunia ke depan, khususnya di bidang keagamaan dan pendidikan.

“Jadi dengan adanya konferensi ini akan dapat satu titik perbincangan antara akademisi dan juga pihak agama dan juga pihak terkait supaya kita bisa mencari kaidah untuk memastikan bahwa kita tidak boleh mengasingkan antara agama dan pendidikan,” ucap perempuan berjilbab ini.

Sebagai narasumber konferensi Internasional itu, Norhaslinda akan membahas tentang pendidikan teknologi dalam menghadapi Revolusi Industri 5.0. Dalam pemaparannya nanti, dia akan mengupas tentang analisis big data.

Semetara itu, Ketua Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (Amali), KH  Abdul Djalal mengatakan, konferensi internasional ini juga sangat penting bagi Indonesia jika melihat fenomena radikalisme yang kini tidak hanya menerpa kalangan awam, tapi juga menerapa para akademisi.

“Konferensi Internasional ini penting jika melihat fenomena radikalisme di Indonesia yang sudah mencapai titik kritis yang sangat membahayakan,” ucap Djalal yang juga menjadi narasumber dalam acara tersebut.

Dia menjelaskan, berbagai upaya memang sudah dilakukan  pemerintah untuk mengkonter radkalisme di Indonesia. Namun, kata dia, kontra radikalisme masih perlu dilakukan berbagai pihak, salah satunya melalui acara konferensi Internasional tersebut, sehingga masyarakat bisa beragama secara moderat.

Dalam kegiatan itu, Djalal akan menyampaikan makalahnya yang berjudul “Ma’had Aly and Moderation of Islamic Relegion and Education in Indonesia”.  

Dia akan menyampaikan bahwa moderasi beragama itu harus dimasukkan melalui lembaga pendidikan dan juga pada kurikulumnya, sehingga bisa mengkonter ajaran radikal.  

“Jadi bagaimana moderasi itu diajarkan masuk ke kurikulum, dan kitab-kitabnya itu harus dipiih betul,” jelas Djalal.

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA